Dua Film Indonesia Baru Tayang: Horor Sajen Satu Suro dan Drama Andai Waktu Bisa Diulang Kembali
Dua Film Baru Indonesia Tayang: Horor dan Drama Keluarga

JAKARTA – Panggung perfilman Tanah Air kembali semarak dengan kehadiran dua film baru yang resmi tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai Kamis, 30 Juli 2026. Dua judul tersebut adalah Sajen Satu Suro, sebuah film horor yang menyelami mitos Malam Satu Suro dalam budaya Jawa, dan Andai Waktu Bisa Diulang Kembali, sebuah drama keluarga yang sarat akan emosi dan renungan. Keduanya menawarkan pengalaman sinematik yang berbeda, namun sama-sama menjanjikan kualitas produksi tinggi.

Sajen Satu Suro: Horor Bernuansa Mistis Jawa

Disutradarai oleh Gatot Subroto, Sajen Satu Suro mengangkat mitos Malam Satu Suro yang erat kaitannya dengan kepercayaan dan tradisi masyarakat Jawa. Film berdurasi 114 menit ini diproduksi oleh PIM Pictures bersama D'Ayu Pictures, South East Pictures, Layar Production, dan Dynamic Pictures. Menurut Gatot Subroto dalam pernyataan resmi yang diterima Kompas.com, film ini tidak hanya menawarkan ketegangan horor, tetapi juga memperkenalkan kembali budaya lokal yang mulai tergerus zaman.

“Kami ingin menghadirkan horor yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga kaya akan nilai budaya. Sajen Satu Suro mengajak penonton untuk lebih mengenal tradisi Jawa, khususnya Malam Satu Suro yang penuh misteri,” ujar Gatot Subroto. Film ini dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris papan atas Indonesia, meskipun daftar pemain belum diumumkan secara resmi. Namun, sumber dari PIM Pictures menyebutkan bahwa pemain utama telah menjalani syuting intensif di beberapa lokasi di Jawa Tengah dan Yogyakarta untuk menangkap atmosfer mistis yang autentik.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Mitos Malam Satu Suro sebagai Inti Cerita

Malam Satu Suro sendiri merupakan malam yang dianggap sakral dalam penanggalan Jawa, identik dengan larangan bepergian dan berbagai pantangan. Sajen Satu Suro mengambil latar kehidupan seorang pemuda yang secara tidak sengaja melanggar aturan adat pada malam tersebut, sehingga memicu rentetan kejadian horor. Sutradara Gatot Subroto mengaku melakukan riset mendalam dengan sesepuh adat Jawa untuk memastikan penggambaran mitos tersebut akurat dan tidak menyinggung kepercayaan setempat.

Andai Waktu Bisa Diulang Kembali: Drama Keluarga yang Menyentuh

Di sisi lain, Andai Waktu Bisa Diulang Kembali hadir sebagai drama keluarga yang mengisahkan tentang penyesalan dan harapan. Disutradarai oleh seorang sineas muda yang namanya masih dirahasiakan, film ini mengajak penonton untuk merenungkan arti penting waktu bersama orang tercinta. Sinopsis singkat yang beredar menyebutkan bahwa cerita berpusat pada seorang ibu yang divonis mengidap penyakit kronis, dan anak-anaknya yang berusaha memperbaiki hubungan yang retak.

“Kami ingin membuat film yang bisa membuat penonton tersentuh dan mungkin meneteskan air mata. Drama keluarga selalu memiliki daya tarik universal, dan Andai Waktu Bisa Diulang Kembali menawarkan cerita yang dijamin relatable bagi banyak orang,” kata juru bicara rumah produksi dalam konferensi pers virtual. Meskipun belum ada pernyataan resmi mengenai pemeran, rumor di kalangan pengamat film menyebutkan beberapa aktris senior akan terlibat dalam proyek ini.

Tanggal Rilis dan Distribusi

Kedua film tersebut akan tayang serentak di seluruh jaringan bioskop di Indonesia, termasuk di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar. Distribusi film ini menggunakan sistem penyebaran yang merata, sehingga penonton di daerah terpencil pun diharapkan bisa menyaksikannya. Harga tiket mengikuti tarif yang berlaku di masing-masing bioskop, tanpa ada perbedaan untuk film reguler.

Antusiasme Penonton dan Ekspektasi Pasar

Meski belum ada data pra-pemesanan yang dirilis, antusiasme warganet di media sosial cukup tinggi. Tagar #SajenSatuSuro dan #AndaiWaktuBisaDiulangKembali mulai ramai diperbincangkan sejak trailer diluncurkan. Menurut pengamat film dari Universitas Indonesia, Rina Kurniawati, kedua film ini memiliki potensi besar di pasaran karena segmen penonton yang berbeda. “Film horor berbasis budaya lokal seperti Sajen Satu Suro biasanya memiliki basis penggemar setia. Sementara drama keluarga seperti Andai Waktu Bisa Diulang Kembali bisa menarik penonton yang lebih lintas generasi,” ujarnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Secara keseluruhan, kehadiran dua film ini menambah warna perfilman Indonesia di tengah persaingan dengan film-film asing. Dengan menggandeng tim produksi yang solid dan mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat, Sajen Satu Suro dan Andai Waktu Bisa Diulang Kembali diharapkan mampu meraih jumlah penonton yang memuaskan sekaligus memperkaya keragaman genre film lokal.