Asal-usul Dewa 19 di Surabaya
Dewa 19 dan Padi Reborn memiliki ikatan yang tak terpisahkan dengan Surabaya, Jawa Timur. Jauh sebelum menjadi dua band besar yang mewarnai industri musik Indonesia, keduanya memulai perjalanan dari panggung-panggung kecil di Kota Pahlawan.
Dewa 19 lahir pada 26 Agustus 1986 dari persahabatan empat remaja: Ahmad Dhani, Andra Ramadhan, Erwin Prasetya, dan Wawan Juniarso. Saat itu, mereka masih duduk di bangku SMP Negeri 6 Surabaya. Persahabatan di sekolah menengah pertama itu menjadi fondasi awal sebuah band yang kelak menjelma menjadi salah satu yang paling berpengaruh di Indonesia.
Setelah melalui berbagai perubahan formasi dan eksplorasi warna musik yang ekstensif, Dewa 19 mengalami transformasi signifikan. Mereka tidak hanya sekadar band panggung kecil, tetapi mampu menembus industri musik nasional dengan ciri khas yang kuat. Perjalanan panjang ini melibatkan berbagai periode, mulai dari era awal dengan vokalis Ari Lasso hingga kemudian berganti ke Once Mekel. Setiap perubahan membawa nuansa baru, namun esensi musik Dewa 19 tetap terjaga.
Pengaruh Surabaya dalam Musik Kedua Band
Surabaya tidak hanya menjadi tempat kelahiran Dewa 19, tetapi juga menjadi laboratorium kreatif bagi band-band tersebut. Panggung-panggung di kawasan Kertajaya,, atau tempat-tempat nongkrong anak muda Surabaya menjadi saksi bisu latihan dan penampilan perdana mereka. Suasana kota pahlawan yang dinamis dan kental dengan budaya anak muda ikut membentuk karakter musik yang kelak mereka usung.
Sementara itu, Padi Reborn, yang awalnya bernama Padi, juga memiliki akar kuat di Surabaya. Meskipun formasi awal Padi terbentuk di Yogyakarta, namun ikatan emosional dengan Surabaya sangat kental. Beberapa personel asli Padi berasal dari Surabaya dan sekitarnya, dan kota ini menjadi tempat mereka mengasah kemampuan sebelum meledak di kancah nasional. Nama Padi Reborn sendiri lahir setelah reuni pada tahun 2024, dengan semangat baru namun tetap mengakar pada sejarah panjang mereka.
Kontribusi Dewa 19 pada Musik Indonesia
Dewa 19 menjadi salah satu band paling berpengaruh di Indonesia. Album-album seperti "Bintang Lima" dan "Cintailah Cinta" melambungkan nama mereka ke puncak popularitas. Lagu-lagu seperti "Kangen", "Separuh Nafas",, dan "Roman Picisan" menjadi anthem bagi banyak generasi. Pengaruh mereka tidak hanya pada musik, tetapi juga pada gaya berpakaian, budaya remaja, dan cara berkarya. Ahmad Dhani, sebagai motor utama, dikenal sebagai sosok visioner yang terus mendorong batas-batas kreativitas.
Prestasi Dewa 19 di industri musik Indonesia diakui dengan berbagai penghargaan, termasuk beberapa kali menjadi Band Terbaik di ajang musik bergengsi. Kiprah mereka juga meluas ke ranah internasional dengan tur di beberapa negara.
Kebangkitan Padi Reborn
Padi Reborn lahir dari reuni personel Padi setelah vakum sepuluh tahun. Dengan formasi yang sama kecuali vokalis, Fadli, yang kembali bergabung, band ini membawa semangat baru namun tetap mempertahankan ciri khas musik Padi yang penuh harmoni. Konser reuni mereka di Surabaya pada 2024 menjadi bukti bahwa ikatan dengan kota ini masih kuat. Ribuan penggemar hadir menyaksikan kebangkitan band yang sempat menjadi salah satu pilar musik Indonesia di era 2000-an.
Baik Dewa 19 maupun Padi Reborn, keduanya menunjukkan bahwa Surabaya bukan sekadar tempat kelahiran, melainkan sumber inspirasi yang terus mengalir. Perjalanan dari panggung-panggung kecil di Kota Pahlawan hingga konser besar di dalam dan luar negeri menjadi cerita yang menginspirasi para musisi muda di Indonesia.



