Sudarto, seorang pengusaha tahu di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, berhasil mengubah nasibnya dari buruh pabrik menjadi pemilik usaha yang memproduksi hingga 6 kuintal tahu per hari. Perjalanannya dimulai sejak merantau dari Nganjuk, Jawa Timur, ke Jakarta pada 1995.
"Pengin nyari gaji yang gede pindah ke sana, pindah ke sini. Dan akhirnya kan kita ambil pengalaman dari kita kerja, akhirnya kan menguasai cara pembuatan tahu itu," kata Sudarto saat ditemui di depan pabriknya.
Modal Pinjaman dan Perjuangan Awal
Setelah belasan tahun bekerja di pabrik orang lain, Sudarto memutuskan memproduksi tahu sendiri pada 2010. Awalnya hanya 50 kilogram per hari. Pada 2015, ia membeli tempat produksi sendiri dengan modal pinjaman Rp 70 juta. Peralatan produksi dilengkapi secara bertahap.
"Kalau tahu tergantung kualitas ya. Kalau kualitas kita bagus, setoran kita agak miring ama yang lain, itu kemungkinan naiknya itu cepat," ujar Sudarto.
Kini produksinya mencapai 6-7 kuintal per hari, dengan harga jual Rp 35 ribu per lempeng. Modal harian sekitar Rp 10 juta, sebagian besar untuk kedelai yang harganya hampir Rp 12.000 per kilogram.
Proses Produksi dan Distribusi
Proses pembuatan tahu dimulai pukul 06.00 pagi, meliputi perendaman, penggilingan, perebusan, pengambilan sari, penggumpalan dengan air asam, dan pencetakan. Selesai sekitar pukul 17.00, lalu dikirim setelah magrib.
Sudarto mempekerjakan tiga orang pengantar dan enam orang pekerja produksi dengan gaji Rp 3 juta per bulan, termasuk makan dan kopi dua kali sehari.
KUR BRI untuk Pengembangan Usaha
Sejak 2020, Sudarto mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, pertama Rp 100 juta, lalu Rp 200 juta. Dana digunakan untuk membeli peralatan stainless dan mesin penyaring otomatis, serta memperbarui kendaraan operasional.
"Sekarang kan alat-alat makin canggih itu. Dulu kalau kayak gentong-gentong itu dari kayu, sekarang udah mainnya udah stainless semua. Lalu mesin yang saring itu dulu orang, sekarang yang tadi udah pakai mesin kayak robot itu. Jadi gerak sendiri dia," jelas Sudarto.
Tambahan modal membantu perputaran bisnis karena sebagian pelanggan membayar tempo hingga sebulan. "Dengan adanya modal ini kan kita bisa nutup kedelai lebih dulu, lebih awal. Sebelum langganan kita setor, kita udah bisa membeli kedelai lagi. Jadi buat tambahan putaran keuangan juga," katanya.
Namun, keuntungan bergantung pada harga kedelai. Harga tahu tidak bisa langsung naik saat kedelai naik karena seragam se-Jabodetabek. "Paling bisa kita mengurangi bahan, kita tipisin," ujarnya.
Pasok MBG dan Pedagang Keliling
Dalam lima tahun terakhir, produksi meningkat hingga 6 kuintal per hari berkat tambahan pelanggan, termasuk pedagang keliling (hampir 1 kuintal per pengiriman) dan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pesanan MBG tidak setiap hari, hanya dua-tiga kali seminggu sesuai menu.
Dampak Usaha bagi Kehidupan
Pendapatan kotor usaha diperkirakan Rp 30 juta per bulan. "Pokoknya sehari itu kalau 5 kuintal Rp 1 juta kotor dapat. Belum kerusakan, belum bensin," kata Sudarto.
Usaha ini membuka lapangan kerja dan memungkinkan masyarakat membeli tahu eceran. Sudarto kini memiliki rumah dan mobil di Jakarta, serta sawah di kampung halaman. "Dulu nggak punya mobil, sekarang udah punya mobil. Dulu enggak punya lahan di sini, sekarang udah punya tempat tinggal di Jakarta," ujarnya. "Alhamdulillah di kampung juga punya sawah, punya ini. Udah bisa nikahin anak sampai punya cucu. Kan itu rezeki juga itu," imbuhnya.
Dukungan BRI untuk UMKM
Pimpinan Cabang BRI Pasar Minggu, Yanuar Akademikus Arbifirdaus, menyambut positif perkembangan UMKM. "Tentunya kami sangat bersyukur apabila dari pelaku-pelaku UMKM yang menikmati pembiayaan atau modal kerja, untuk usahanya dari Bank BRI. Saya turut bersyukur dan bangga," ujar Arbi.
Ia berharap BRI terus membantu masyarakat dengan penyaluran KUR. "Tentunya ini jadi harapan kita semua. Kita bisa menyalurkan khususnya KUR, ke pelaku usaha UMKM ini untuk apa? Men-generate kemampuan usaha pelaku UMKM itu sendiri. Dengan bertambahnya modal, atau dia dengan kredit investasi buka tempat baru, sehingga bisa memperluas usaha dan memajukan usaha dari pelaku-pelaku UMKM," tutup Arbi.



