Bank Indonesia (BI) kembali menggelar Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (FESyar KTI) 2026 di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Acara ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional dengan memaksimalkan potensi Kawasan Timur Indonesia, meliputi Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, hingga Nusa Tenggara.
Target Pembiayaan Syariah Rp11 Miliar dan Omzet Rp1,5 Miliar
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan FESyar KTI menjadi wadah bagi pelaku usaha binaan BI untuk meningkatkan daya saing dan memperluas peluang bisnis. "Ini adalah bagian dari satu rangkaian besar dimana kami memberikan kesempatan kepada para UMKM Binaan Bank Indonesia untuk bisa bersama-sama terus meningkatkan kualitasnya," ujar Destry saat membuka acara.
BI menargetkan penyaluran pembiayaan syariah sebesar Rp11 miliar dan omzet UMKM/pelaku usaha syariah sebesar Rp1,5 miliar. Selain itu, dari sisi literasi dan edukasi, tercatat 3.223 pendaftar Olimpiade Ekonomi Syariah Nasional (OESN) atau 124 persen dari target 2.600 pendaftar.
Langkah ini sejalan dengan empat program unggulan FESyar KTI 2026: AKBAR (Akselerasi Kemandirian Bisnis Pesantren Berkelanjutan), AMANAH (Akselerasi Menuju Sertifikasi dan Ekosistem Halal), BARAKAH (Bina Rantai Komoditas Halal untuk Ekspor), dan MAHAR (Mobilisasi Aset Halal melalui Akselerasi Wakaf).
UMKM Binaan BI Rasakan Manfaat Nyata
Desiriani, pemilik Kasuari Batik asal Papua Barat, mengaku terbantu dengan program BI. "Alhamdulillah kita dapat banyak pelatihan dan juga banyak pembinaan dari BI sehingga produk kami banyak berkembang sampai sekarang," ucapnya. Pelatihan digital marketing menjadi salah satu yang paling berarti: "dari BI ini baru akhirnya menjelajah masuk ke dunia online atau digital marketing ini, terima kasih karena ada BI ini diajarkan dari awal."
Senada, Mariani Montu, pemilik Zabay Collection dari Sulawesi Utara, merasakan manfaat pendampingan BI pada aspek manajemen bisnis dan pelatihan penguatan nilai produk. "BI melihat saya hobi merancang batik, tapi saya tidak punya ilmunya. Jadi BI memfasilitasi, mendatangkan instruktur yang para ahli itu untuk mengajar kami di daerah," ujarnya. "Akhirnya, setelah melalui pelatihan itu, karya saya semakin hebat, semakin bagus dan semakin mendapat pengakuan dari para desainer yang ternama."
Indonesia Menuju Pusat Ekonomi Syariah Global
Berdasarkan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026, Indonesia menempati peringkat keempat dunia, dengan peringkat pertama pada sektor modest fashion, peringkat kedua pada sektor pariwisata ramah muslim, dan peringkat ketiga pada sektor makanan halal. Destry menegaskan, "Jadi overall, kita berada di peringkat nomor 4. Apakah kita puas? Kita bersyukur, kita alhamdulillah kita sudah mencapai peringkat 4. Tapi apakah itu secukup disitu? Belum, kita harus terus berikhtiar, karena peluang itu masih sangat besar sekali."
Sinergi dan Kolaborasi Lintas Sektor
Penyelenggaraan FESyar KTI 2026 merupakan hasil sinergi Bank Indonesia, Pemerintah Daerah, Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Agama, Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), Kementerian Keuangan, akademisi, dan pelaku usaha syariah. BI bersama mitra strategis akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam penguatan rantai nilai halal, pengembangan keuangan syariah yang inklusif dan adaptif, serta peningkatan literasi dan inklusi ekonomi guna mewujudkan visi Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia.



