Iyos, seorang petani talas dan jagung di Desa Cikeas, Kabupaten Bogor, tidak pernah menyesali keputusannya beralih profesi menjadi petani. Kepuasan tersendiri ia rasakan setiap kali menuai hasil panen dari jerih payahnya.
Perjalanan Hidup Iyos Menjadi Petani
Di tengah hamparan tanaman talas dan jagung di Kampung Ciowa, Desa Cikeas, Iyos menggantungkan hidup keluarganya. Sebelum menjadi petani, ia bekerja di jalanan. Namun, pandemi COVID-19 memaksanya mencari alternatif. Dengan modal sendiri, ia mulai bertani dan bergabung dengan kelompok tani untuk mendapatkan bantuan pemerintah. Namun, anggota kelompok tani mundur satu per satu, membuat Iyos kebingungan mempertahankan usahanya.
"Nah, alhamdulillah saya komunikasi sama Bank BRI, kebetulan waktu itu ada program KUR," kata Iyos saat ditemui detikcom, Selasa (19/5/2026).
Dukungan KUR BRI untuk Usaha Talas
Pada 2023, Iyos pertama kali mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp 40 juta. Pinjaman itu membuat usahanya lebih terarah dan bibit pertanian meningkat. "Alhamdulillah sampai sekarang saya lancar, bisa bertani, bisa menafkahi keluarga," ujarnya.
Saat ini, Iyos menggarap lahan milik orang lain seluas sekitar 6.000 meter persegi dengan sistem sewa Rp 7,5 juta per tahun. Lahan tersebut telah digarap turun-temurun dari almarhum ayah dan ibunya. "Alhamdulillah, dengan kerja sama sama BRI lebih nyaman, lebih enak di bidang pertanian. Walaupun hasil tidak seberapa, tapi rasanya enak. Jauh beda hidup dengan di jalan," tuturnya.
Alasan Memilih Talas dan Jagung
Iyos memilih bertani talas karena pasarnya jelas. Banyak lapak di pasar membutuhkan talas merah sutra ungu. Jagung ditanam sebagai persiapan untuk musim talas berikutnya, karena lahan bekas talas harus ditanami tanaman lain terlebih dahulu untuk mensterilkan bakteri. "Biar lahan tersebut steril, tidak ada bakteri, saya tanam dulu jagung. Setelah jagung, talas lagi," jelas Iyos.
Hasil Usaha Talas yang Menguntungkan
Setelah beberapa tahun, usaha talas Iyos mulai menghasilkan. Setiap panen enam bulan, ia meraih laba bersih Rp 10 juta hingga Rp 12 juta. "Kadang ada 8.000 talas, kadang ada 5.000, tergantung permintaan pasar," katanya. Untuk jagung, ia bisa menjual hasil dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, ditambah pemasukan dari lahannya sendiri.
Manfaat bagi Warga Sekitar
Perkembangan usaha Iyos juga memberi manfaat bagi warga. Ia mempekerjakan dua orang dengan sistem borongan, digaji setiap kali pengolahan lahan dan penanaman. Satu petak dihargai Rp 500.000 termasuk biaya tanam. Iyos juga mendaftarkan pegawainya ke BPJS Ketenagakerjaan. Salah seorang pekerjanya kini bisa memiliki rumah setelah bekerja di ladangnya. "Saat baru nikah dia kerja sama saya, punya anak satu, dari tidak punya rumah, sekarang alhamdulillah dia punya rumah sendiri," tutur Iyos.
Perubahan Hidup Iyos
Penghasilan dari bertani mencukupi kebutuhan keluarga Iyos yang memiliki empat anak. Ia bahkan bisa merenovasi rumahnya yang sebelumnya sederhana menjadi lebih nyaman. "Kalau ekonomi lancar, kita sama keluarga juga enak, harmonis," katanya. Masyarakat sekitar juga bisa membeli talas dari Iyos dengan harga lebih murah dari pasar.
Setelah usahanya berkembang, Iyos kembali mengajukan pinjaman KUR BRI sekitar Rp 64 juta. Ia mempertimbangkan jumlah pinjaman agar angsurannya tidak tersendat. "Saya tidak mau nama baik saya tercoreng di bank BRI," ujarnya. Ia berharap ke depannya bisa memiliki kios sendiri untuk memasarkan hasil pertaniannya.
Apresiasi BRI
Mantri BRI Unit Cimahpar, Win Zikra, mengapresiasi perkembangan usaha Iyos. Menurutnya, KUR yang disalurkan BRI benar-benar dirasakan manfaatnya dalam meningkatkan nilai ekonomi masyarakat. "Kami sebagai perbankan yang membantu permodalan UMKM, ada manfaatnya," katanya. Ia berharap usaha Iyos semakin maju, lahannya lebih luas, dan produksinya meningkat.



