Waskita Karya Raih Laba Kotor Rp 1,58 Triliun, Naik 12% di 2025
Waskita Karya Laba Kotor Rp 1,58 T Naik 12% di 2025

Waskita Karya Catat Kenaikan Laba Kotor 12% di Tahun 2025

PT Waskita Karya (Persero) Tbk terus menunjukkan performa keuangan yang membaik dengan mencatat laba kotor sebesar Rp 1,58 triliun pada tahun 2025. Angka ini mengalami peningkatan signifikan sekitar 12% dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp 1,41 triliun. Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, mengungkapkan bahwa pencapaian ini tidak lepas dari strategi efisiensi operasional proyek yang dijalankan secara konsisten.

Pendapatan Didominasi Proyek Pemerintah

Secara keseluruhan, total pendapatan konsolidasi Perseroan mencapai Rp 8,85 triliun pada tahun ini. Kontribusi terbesar berasal dari induk perusahaan sebesar Rp 5,75 triliun, sementara anak usaha menyumbang Rp 3,1 triliun. Berdasarkan segmentasi usaha, pendapatan bersumber dari segmen konektivitas Rp 3,3 triliun, Sumber Daya Air (SDA) Rp 1,4 triliun, gedung Rp 1,2 triliun, serta lainnya Rp 0,9 triliun.

Ermy menegaskan bahwa sebagian besar pendapatan tersebut diperoleh dari berbagai proyek pemerintah, yang memperkuat komitmen Waskita Karya dalam mendukung program-program nasional. Namun, Perseroan masih mencatat beban pokok pendapatan sebesar Rp 7,2 triliun atau 82% dari Pendapatan Usaha.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Transformasi Digital dan Inovasi Teknologi

Untuk menciptakan efisiensi dan efektivitas, Waskita Karya mengimplementasikan lean organization dan transformasi digital di berbagai bidang. Di sektor operasional, Perseroan mengintegrasikan Core System ERP SAP S/4 HANA dengan Building Information Modelling (BIM) serta perencanaan Last Planner System (LPS).

Selain itu, sejumlah inovasi digital turut diterapkan, seperti penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) WISENS (Waskita Intelligent Sensing System) pada pembangunan proyek. Salah satunya adalah AI Pavement Crack Detection yang membantu mendeteksi kerusakan jalan dengan lebih efisien, mengurangi waktu inspeksi hingga 40% lebih cepat.

Strategi Penurunan Utang dan Optimalisasi Aset

Pada tahun 2025, Waskita Karya berhasil menurunkan liabilitas sebanyak Rp 2,21 triliun. Fokus manajemen kini adalah mengurangi utang melalui percepatan divestasi jalan tol dan optimalisasi aset, sebagai bagian dari strategi kembali ke core business sebagai kontraktor murni.

Beberapa aksi divestasi yang telah diselesaikan meliputi:

  • Divestasi PT Waskita Sangir Energi (WSE) sebesar 94,7% melalui anak usaha PT Waskita Karya Infrastruktur (WKI) pada September 2025.
  • Pelepasan 35% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) oleh PT Waskita Toll Road pada November 2025.
  • Divestasi 20% saham PT Waskita Modern Realty (WMR) melalui PT Waskita Karya Realty (WKR) pada Desember 2025.

Kontrak Baru dan Proyek Berkelanjutan

Total Nilai Kontrak Baru (NKB) Waskita Karya menembus Rp 12,52 triliun pada 2025, naik signifikan dari Rp 9,55 triliun di tahun sebelumnya. Perolehan ini didominasi oleh proyek pemerintah, seperti jaringan irigasi, Sekolah Rakyat (SR), dan konstruksi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di berbagai wilayah.

Ermy menyatakan bahwa pengerjaan proyek-proyek tersebut merupakan wujud kontribusi Waskita dalam mendukung pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan. Hingga 31 Desember 2025, Perseroan mengelola 63 proyek di seluruh Indonesia dengan total nilai kontrak mencapai Rp 31,7 triliun.

Komitmen Ke Depan dan Rencana Penyehatan Keuangan

Fokus utama Waskita Karya ke depan adalah menurunkan total utang, termasuk Master Restructuring Agreement (MRA) dan Kredit Modal Kerja Penjaminan (KMKP) 2021 yang telah disetujui oleh 22 kreditur perbankan. Restrukturisasi obligasi Non-Penjaminan senilai Rp 3,35 triliun juga telah mendapatkan persetujuan dari tiga seri obligasi.

"Upaya penurunan utang ini sejalan dengan strategi Rencana Penyehatan Keuangan (RPK) yang sudah disahkan. Waskita berkomitmen untuk kembali ke core business sebagai kontraktor murni, menciptakan kegiatan operasional yang lebih berkelanjutan," pungkas Ermy. Inovasi dalam tata kelola dan manajemen risiko melalui pembentukan berbagai komite diharapkan membuat perusahaan lebih adaptif menghadapi tantangan ke depan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga