Polemik Mal Kemang dan Banjir: JK Sebut Lokasi Bekas Rawa, Lippo Bantah
Keberadaan Mal Lippo Kemang di Jakarta Selatan kini menjadi sorotan pasca banjir besar yang melanda kawasan tersebut pada Sabtu pekan lalu. Polemik ini memicu perdebatan sengit antara berbagai pihak, termasuk mantan pejabat tinggi dan pengelola mal.
Pernyataan Kontroversial Jusuf Kalla
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) secara tegas menyatakan bahwa lokasi Mal Lippo Kemang sebelumnya merupakan area rawa-rawa yang berfungsi sebagai daerah resapan air. Menurutnya, perubahan fungsi lahan dari rawa menjadi pusat perbelanjaan telah mengurangi kapasitas penyerapan air di kawasan Kemang.
"Di lokasi tersebut sebelumnya merupakan rawa-rawa tempat air meresap," ujar JK, mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan ekologis dalam pembangunan.
Tanggapan dan Bantahan Mal Lippo Kemang
Pengelola Mal Lippo Kemang langsung menanggapi pernyataan JK dengan membantah bahwa mal mereka menjadi penyebab banjir. Mereka menegaskan bahwa pembangunan mal telah mengikuti semua regulasi dan prosedur yang berlaku, termasuk sistem pengelolaan air yang memadai.
"Kami memiliki sistem drainase yang komprehensif dan telah melalui berbagai pemeriksaan," kata perwakilan mal, menambahkan bahwa banjir di Kemang disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti curah hujan ekstrem dan kondisi infrastruktur sekitarnya.
Sutiyoso Mengaku Lupa Soal Izin
Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, yang memimpin ibu kota pada periode 1997-2007, mengaku tidak ingat secara detail mengenai proses perizinan Mal Lippo Kemang. Pernyataan ini menambah kerumitan polemik, mengingat masa jabatannya bersamaan dengan periode pengembangan mal tersebut.
Sutiyoso menyatakan, "Saya sudah lupa soal izin mal tersebut," sambil menekankan bahwa setiap proyek pembangunan seharusnya melalui proses yang transparan dan sesuai aturan.
Sejarah Teguran dari Gubernur Sebelumnya
Diketahui bahwa Gubernur DKI Jakarta era 2014-2017, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), pernah menegur Mal Lippo Kemang terkait masalah drainase. Teguran ini menunjukkan bahwa persoalan pengelolaan air di kawasan mal bukanlah isu baru, melainkan telah menjadi perhatian pemerintah dalam kurun waktu yang cukup lama.
Ahok pada masanya meminta pengelola mal untuk memperbaiki sistem pembuangan air guna mencegah genangan dan banjir di sekitarnya.
Analisis Penyebab Banjir di Kemang
Banjir besar di Kemang pada Sabtu pekan lalu menimbulkan pertanyaan mendasar tentang tata kelola lingkungan perkotaan. Beberapa faktor yang diduga berkontribusi meliputi:
- Perubahan fungsi lahan dari daerah resapan menjadi bangunan komersial
- Kapasitas drainase yang tidak memadai untuk menampung curah hujan tinggi
- Penurunan permukaan tanah (land subsidence) yang memperparah genangan air
- Kurangnya ruang terbuka hijau sebagai penyerap air hujan
Polemik ini mengingatkan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan tata ruang dan pengawasan pembangunan di Jakarta, khususnya di daerah yang rawan banjir seperti Kemang.



