Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menargetkan sebanyak 5.000 desa di Indonesia mampu menjadi pelaku ekspor hasil bumi ke pasar internasional. Target ambisius ini diumumkan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, dalam penandatanganan nota kesepahaman dengan Barisan 8 Center di Jakarta pada Selasa, 28 April 2026.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Percepatan Pembangunan Desa
Yandri menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam membangun desa. Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat, termasuk relawan, perguruan tinggi, dan sektor swasta, didorong untuk terlibat melalui skema desa binaan. "Kita ini support team, bukan superman. Semua harus terlibat dan memiliki desa binaan," ujar Yandri.
Pendekatan kolaboratif ini dinilai penting untuk mempercepat penyelesaian berbagai persoalan desa, seperti keterbatasan listrik, wilayah blank spot, akses air bersih, dan pendidikan. Yandri menekankan bahwa desa harus menjadi subjek pembangunan, bukan objek. "Kalau desa maju, maka Indonesia akan maju," kata dia.
Program Prioritas Desa Ekspor
Dalam kerja sama ini, Barisan 8 Center dilibatkan untuk mendukung program prioritas pemerintah, yaitu pengembangan desa ekspor yang masuk dalam 12 aksi pembangunan desa nasional. Saat ini, sejumlah desa ekspor telah berkembang dengan komoditas unggulan seperti kopi, vanili, kemiri, dan gula aren. Program ini bertujuan meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat desa sekaligus memperluas akses pasar global.
Ketua Umum Barisan 8 Center, Andrio Caesario, menyatakan organisasinya siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong desa mandiri dan sejahtera. "Kita membantu bagaimana hasil sumber daya alam di desa bisa tersalurkan ke pasar ekspor dan memberikan manfaat besar bagi petani," kata Andrio. Peran utama Barisan 8 Center adalah membuka akses pasar internasional dan memastikan dukungan regulasi bagi produk desa agar mampu bersaing secara global.
Jawa Barat Jadi Wilayah Percontohan
Andrio mengungkapkan bahwa Jawa Barat menjadi salah satu wilayah percontohan program desa ekspor dengan fokus utama pada komoditas kopi Arabika. "Kita ingin mengangkat kopi Jawa Barat agar menjadi salah satu primadona dunia," katanya. Selain akses pasar, Barisan 8 Center juga menghadirkan dukungan berbasis teknologi melalui pengembangan aplikasi pemetaan potensi desa. Aplikasi tersebut dilengkapi sistem geotagging yang memuat data luas lahan, kualitas komoditas, hingga rantai produksi. Teknologi ini diharapkan memudahkan pembeli luar negeri mengakses informasi potensi desa secara langsung. "Buyer bisa mengetahui potensi desa dari hulu hingga hilir produk," jelas Andrio.
Kemendes menargetkan pembentukan sekitar 5.000 desa ekspor dalam beberapa tahun ke depan melalui kolaborasi multipihak. Yandri menegaskan bahwa pembangunan desa harus berjalan melalui pendekatan pemberdayaan yang diiringi pendampingan berkelanjutan. "Kalau ada pemberdayaan, harus ada pendampingan," tegas Yandri. Pemerintah berharap kolaborasi ini mampu mempercepat transformasi desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.



