Jakarta - Suara rintik hujan berpadu dengan desis gelembung udara dari kolam bioflok di halaman rumah Ruskandar di Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Gelembung-gelembung kecil itu muncul dari aerator yang bekerja tanpa henti menyuplai oksigen bagi ribuan ikan nila di dalam kolam.
Di tengah cuaca mendung sore itu, Ruskandar mengajak tim untuk berkeliling melihat delapan kolam budidaya ikan menggunakan sistem bioflok. Pria berusia 63 tahun tersebut tampak gesit dan antusias menjelaskan usaha yang ditekuninya saat masa pensiun.
Ruskandar merupakan pensiunan dari salah satu perusahaan BUMN. Setelah puluhan tahun bekerja dengan ritme kantor, ia kini memilih memanfaatkan lahan di depan rumah untuk usaha budidaya ikan demi menambah penghasilan keluarga. Ia memulai usaha budidaya ikan secara konvensional pada 2019, namun hasil yang diperoleh saat itu belum maksimal. Produksi ikan yang rendah dan keterbatasan air di wilayahnya membuat ia mencari alternatif lain.
Pada 2025, ia memutuskan beralih ke sistem bioflok atau teknik budidaya ikan melalui rekayasa lingkungan yang mengandalkan pasokan oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme. Informasi mengenai metode ini diperolehnya dari internet serta masukan dari teman-temannya di Institut Pertanian Bogor (IPB).
"Kalau sistem konvensional per meter kubik itu hanya mampu menampung 25 ekor, kalau ini satu kubik air bisa menampung 150 sampai 200 ekor dengan syarat memang harus ada kecukupan parameternya, seperti oksigennya, kemudian pH, temperatur, penanganan amoniaknya, nitrat-nitritnya," ujar Ruskandar saat ditemui, Kamis (14/5/2026).
Saat ini, Ruskandar mengelola delapan kolam. Enam kolam digunakan untuk pembesaran, satu untuk pemijahan dan satu lagi untuk ikan siap panen. Setiap kolam berukuran sekitar 20 meter persegi dengan jumlah ikan sebanyak 2.500 hingga 3.000 ekor.
"Jadi saya lebih menggunakan sistem tebar padat," kata Ruskandar.
Ia bercerita peralihan ke metode bioflok tidak langsung berjalan mulus. Awalnya, Ruskandar kesulitan mendapatkan bibit ikan karena jarak pembelian yang jauh sehingga hal itu berdampak pada kematian ikan. "Mungkin handling-nya kurang bagus sehingga beli 8.000 ekor itu yang tersisa cuma 1.250 Pak," ujar Ruskandar.
Dari pengalaman tersebut, ia belajar untuk memperbaiki cara pengambilan bibit hingga aman dibudidayakan di kolam depan rumahnya. Proses pembesaran bibit ikan di kolam berlangsung selama kurang lebih empat bulan. Setelah itu, ikan siap untuk dipanen dengan ukuran yang cukup besar.
Dalam satu kolam, hasil panen bisa mencapai enam kuintal. Jika dijumlahkan seluruh kolam pembesaran, produksi ikan bisa mencapai lebih dari tiga ton. "Mudah-mudahan aja pasarnya bisa terus bagus," ujar Ruskandar.
Saat ini pemasaran ikan baru dilakukan langsung dari rumah, belum dijual secara online. Pembelinya beragam, mulai dari pedagang eceran, pemilik rumah makan hingga pengelola koperasi ikan dari Bogor, Jakarta dan Tangerang. Harga ikan yang dijual kepada para pembeli pun bervariasi. Biasanya harga untuk para penjual di Bogor lebih murah dibandingkan dengan daerah lain.
"Karena umumnya pembeli dari Jakarta itu dia hanya bawa uang saja. Tidak bawa gas oksigen, tidak bawa plastik, tidak bawa peralatan, jadi kita yang nyiapin," imbuh Ruskandar.
Dampak Usaha Budidaya Ikan
Usaha budidaya ikan yang dijalani Ruskandar itu baru stabil pada awal 2026. Ia juga menerima testimoni positif dari konsumen yang menilai ikan hasil metode bioflok lebih enak dibandingkan dengan metode konvensional.
"Alhamdulillah mungkin dari testimoni pelanggan bahwa ikan yang dihasilkan dari kolam bioflok itu tidak bau lumpur, terus dagingnya lebih enak ya, kemudian dagingnya lebih tebal," ujarnya.
Dalam sekali panen, keuntungan yang diperoleh bisa mencapai Rp 2 juta per satu kolam atau sekitar Rp 12 juta dari seluruh kolam. Selain itu, dampak dari usaha ini, Ruskandar bisa mempekerjakan satu orang pegawai secara temporer.
"Saat diperlukan saja, seperti saat panen, pemeliharaan, sortir, itu aja. Jadi nggak tiap hari," ujar Ruskandar.
Ruskandar menyampaikan usaha ini membantu menopang kebutuhan keluarganya di masa pensiun. Sebab, menurutnya, kebutuhan keluarga terus berjalan meskipun dirinya sudah tidak lagi bekerja. "Secara ekonomi membantu. Membantu mendapatkan nilai tambah untuk kebutuhan keluarga. Karena saya sudah pensiun, di mana berbeda pendapatan dulu ketika kerja dengan yang sudah pensiun," imbuhnya.
Dampak lainnya dari usaha budidaya ikan ini dirasakan oleh masyarakat sekitar. Warga kini bisa membeli ikan dengan harga yang lebih murah dari pasar. "Alhamdulillah terutama masyarakat yang berdagang, jualan nasi terutama. Mereka tidak harus jauh-jauh lagi ke pasar, sudah bisa langsung pesan," tutur Ruskandar.
Modal dari BRI Membantu
Dalam proses pengembangan usahanya, Ruskandar mengajukan pinjaman sebesar Rp 15 juta melalui program Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) BRI. Ruskandar merasa terbantu dengan adanya modal tambahan dari BRI ini untuk meningkatkan hasil produksi. "Alhamdulillah terbantu, menjadi teratasi," kata Ruskandar.
Ia menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan permodalan yang disalurkan BRI. Proses pengajuan kredit juga direspons cepat oleh pihak bank. "Saya mengucapkan terima kasih banyak untuk BRI yang bisa membantu dengan cepat. Dalam hitungan beberapa hari sudah direspons. Kemudian disurvei, beberapa hari kemudian langsung bisa direalisasi," ujar dia.
Komitmen BRI Dukung Ekonomi Warga
Kepala Unit BRI Sindang Barang, Jexon Markus, mengapresiasi langkah Ruskandar yang beralih dari budidaya ikan konvensional ke metode bioflok. Jexon mengatakan penggunaan teknologi dalam usaha budidaya ikan tersebut benar-benar tepat sasaran. "Jadi penggunaannya itu memang tepat guna. Sehingga membantu nasabah dalam pengelolaan usahanya," ujar Jexon dalam wawancara terpisah.
Jexon menyampaikan proses pengajuan pinjaman modal Ruskandar juga mendapatkan pendampingan dari BRI. Hal itu dilakukan untuk memastikan pengajuan berjalan lancar demi mendukung usaha ikan yang dikelola Ruskandar. Ia pun menegaskan komitmen BRI dalam mendukung perekonomian masyarakat. Jexon mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi usaha warga.
"Kami inginnya itu membantu masyarakat setempat, menjadi ekosistem baru di BRI juga. Jadi, ekosistemnya itu sudah berjalan dari bibit, pakan, terus penyaluran dan penjualan. Itu sudah dijalankan oleh nasabah dan ekosistemnya itu masuk ke ekosistemnya BRI," tegas Jexon.



