Program MBG Dinilai Jadi Momentum Emas Tingkatkan Kesejahteraan Industri Unggas Lokal
Anggota Komisi VIII DPR, Singgih Januratmoko, menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah harus dimanfaatkan sebagai momentum emas untuk meningkatkan kesejahteraan industri lokal unggas. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak boleh membiarkan industri dalam negeri kalah saing terhadap tekanan dari pemain global yang semakin masif.
"Pemerintah tidak boleh tinggal diam membiarkan industri lokal dihabisi oleh pemain global. Namun, keberpihakan yang dimaksud bukanlah proteksionisme buta yang menutup pintu masuk investasi asing. Keberpihakan yang cerdas adalah menciptakan lapangan bermain yang setara atau level playing field sambil memperkuat daya saing lokal," kata Singgih dalam keterangannya pada Kamis (26/2/2026).
Ancaman dari Merger Raksasa Pakan Global
Singgih menyoroti bahwa dunia industri perunggasan Indonesia tengah memasuki babak baru yang menegangkan. Di penghujung tahun 2025, guncangan besar datang dari Asia Tenggara dengan keputusan dua raksasa pakan global, De Heus Animal Nutrition asal Belanda dan CJ Feed dan Care asal Korea Selatan, untuk bergabung. Menurutnya, akuisisi ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa, melainkan ancaman serius bagi ketahanan industri nasional.
Ia mengungkapkan bahwa industri perunggasan nasional masih menghadapi pekerjaan rumah yang serius. Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) mencatat bahwa sepanjang 2025, industri masih dilanda oversupply atau kelebihan pasokan Day Old Chicken (DOC). "Kita harus jujur mengakui bahwa industri perunggasan nasional masih menghadapi pekerjaan rumah yang serius. Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) mencatat bahwa sepanjang 2025, industri masih dilanda oversupply atau kelebihan pasokan Day Old Chicken (DOC)," kata dia.
Pentingnya Efisiensi dan Tata Kelola yang Kuat
Singgih menuturkan bahwa perusahaan De Heus dapat memproduksi pakan dengan biaya lebih murah, sehingga jika peternak lokal tidak mampu mengejar efisiensi, mereka akan kalah bersaing di pasar sendiri. Ia menilai pemerintah harus segera menyelesaikan masalah data dan tata kelola industri, terutama fluktuasi harga livebird dan oversupply DOC yang terjadi berulang setiap tahun, yang menunjukkan bahwa perencanaan di hulu masih lemah.
Kebijakan culling DOC dan penetapan Harga Pokok Produksi (HPP) yang telah berjalan perlu dievaluasi dan ditegakkan secara konsisten. "Kemudian, akses peternak kecil terhadap teknologi dan permodalan harus diperluas. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah adalah momentum emas. Jika peternak lokal tidak mampu memasok kebutuhan program sebesar ini, maka celah impor akan terbuka lebar," katanya.
Peran Pemerintah Daerah dan Penguatan Organisasi Peternak
Selanjutnya, pemerintah daerah juga harus bergerak aktif. Singgih mencontohkan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, yang tengah menyusun Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) 2026–2046 dengan fokus pada industri bernilai tambah tinggi dan penguatan Industri Kecil Menengah (IKM).
Ia menekankan bahwa merger De Heus-CJ adalah ujian sesungguhnya bagi ketahanan industri peternakan Indonesia. "Yang harus dilakukan adalah memperkuat fondasi, dari hulu pembibitan, efisiensi pakan, hingga tata niaga yang adil," kata dia. Pemerintah harus hadir sebagai wasit yang adil sekaligus pelatih yang memperkuat tim nasional, sementara pelaku usaha, baik besar maupun kecil, harus merapatkan barisan.
Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan harus aktif memantau praktik monopoli atau predator pricing. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) perlu sejak dini mewaspadai potensi penguasaan pasar yang berlebihan pasca merger ini.
"Yang tidak kalah penting adalah memperkuat organisasi peternak. Selama ini peternak mandiri sering menjadi pihak yang paling dirugikan ketika harga jatuh. Dengan adanya koperasi atau gabungan kelompok tani yang solid, mereka memiliki posisi tawar yang lebih kuat terhadap perusahaan pakan, baik lokal maupun multinasional," ujar Singgih.
Dengan demikian, program MBG tidak hanya sekadar inisiatif kesehatan, tetapi juga peluang strategis untuk membangun ketahanan dan kesejahteraan industri unggas lokal di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
