Korea Utara saat ini dilanda kekeringan yang dinilai tidak biasa dan parah. Bencana ini menimbulkan ancaman serius terhadap sektor pertanian di negara yang terisolasi secara politik dan ekonomi tersebut. Pemerintah setempat telah mengerahkan segala upaya untuk melindungi tanaman awal musim dari dampak kekeringan.
Kekeringan Ekstrem Ancam Produksi Pangan
Kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, melaporkan bahwa kekeringan yang tidak biasa terus berlanjut di sebagian besar wilayah negara. Fenomena ini jarang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Para pekerja di berbagai daerah kini memusatkan seluruh perhatian dan sumber daya untuk menyelamatkan tanaman awal musim dari kekeringan.
KCNA menambahkan bahwa kota dan kabupaten bertanggung jawab melakukan perbaikan pada pintu air waduk dan saluran air. Langkah ini diambil karena pasokan air berkurang drastis akibat kekeringan parah. Selain itu, para pekerja juga menerapkan langkah-langkah teknis untuk meminimalkan kerusakan akibat kekeringan, seperti meningkatkan ketahanan gandum dan jelai terhadap kekeringan serta memastikan pertumbuhan tanaman awal musim yang stabil.
Krisis Pangan Sudah Mengkhawatirkan
Sebelum kekeringan terjadi, Korea Utara sudah menghadapi masalah kekurangan pangan yang serius. Elizabeth Salmon, pelapor khusus PBB tentang hak asasi manusia di Korea Utara, pada Februari lalu menyatakan bahwa kekurangan pangan telah menjadi perhatian utama di negara tersebut. Infrastruktur dan ekonomi yang lemah membuat Korea Utara sangat rentan terhadap bencana alam seperti kekeringan.
Perbandingan dengan Korea Selatan
Sementara itu, Korea Selatan, ekonomi terbesar keempat di Asia, juga mengalami kekeringan berkepanjangan tahun lalu. Kekeringan melanda kota pesisir Gangneung, memaksa pihak berwenang menerapkan pembatasan air, termasuk mematikan 75 persen meteran rumah tangga di seluruh kota. Korea Selatan mencatat musim panas terpanas dalam sejarah tahun lalu, sementara Korea Utara juga mengalami bulan Juni terpanas.
Perubahan Iklim dan El Nino
Para ahli menyatakan bahwa perubahan iklim membuat gelombang panas semakin sering dan intens. Fenomena cuaca El Nino musiman kemungkinan akan kembali tahun ini, yang dapat membawa panas, kekeringan, dan hujan lebat ke berbagai bagian Asia. Kondisi ini semakin memperparah situasi di Korea Utara yang sedang berjuang melawan kekeringan.
Pemerintah Korea Utara terus berupaya melindungi tanaman dan memastikan ketersediaan pangan di tengah kondisi yang sulit. Namun, dengan infrastruktur yang terbatas dan isolasi internasional, tantangan yang dihadapi sangat besar.



