Johan Rosihan Desak Pemerintah Antisipasi Krisis Pangan di Tengah Ketegangan Global
Johan Rosihan Desak Antisipasi Krisis Pangan Global

Johan Rosihan Desak Pemerintah Antisipasi Krisis Pangan di Tengah Ketegangan Global

Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan, mendorong pemerintah untuk mengelola sektor pangan dengan pendekatan luar biasa, mengingat meningkatnya ketegangan geopolitik global yang dapat mengganggu stabilitas pangan nasional. Dalam rapat kerja bersama Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional, ia menegaskan bahwa dunia saat ini sedang tidak normal, sehingga diperlukan respons yang lebih cepat dan terintegrasi.

Ancaman Krisis Pangan dari Dinamika Global

Johan Rosihan menyatakan bahwa ketahanan pangan tidak boleh hanya diukur dari stok yang tersedia saat ini, meskipun pemerintah melaporkan surplus beras. "Masalah kita bukan sekadar stok hari ini, tapi ketahanan sistem ke depan," ujarnya. Ia memperingatkan bahwa gangguan global pada energi, pupuk, dan logistik dapat langsung berdampak pada harga pangan di dalam negeri, terutama dengan eskalasi konflik Iran-Israel-AS yang sedang berlangsung.

Menurutnya, Indonesia berisiko menghadapi skenario krisis yang kompleks, dengan tekanan simultan dari konflik global, kenaikan biaya energi dan pupuk, serta potensi gangguan produksi akibat faktor iklim seperti El Nino. "Kalau tiga tekanan ini terjadi bersamaan, maka dalam beberapa bulan ke depan kita berpotensi menghadapi kenaikan harga pangan yang signifikan," tegas Johan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Tiga Langkah Strategis yang Mendesak

Dalam rapat tersebut, Johan Rosihan mengusulkan tiga langkah strategis untuk mengantisipasi krisis pangan:

  1. Pembentukan komando krisis pangan nasional yang terintegrasi lintas sektor dan mampu bekerja secara real-time untuk merespons dinamika harga, stok, dan distribusi.
  2. Pengamanan sektor hulu, khususnya ketersediaan pupuk dan input produksi, guna memastikan keberlanjutan produksi pangan di tengah potensi kenaikan biaya global.
  3. Penguatan cadangan pangan tidak hanya pada beras, tetapi juga pada komoditas strategis lain seperti jagung, kedelai, dan protein hewani, mengingat ketergantungan Indonesia terhadap impor.

Pentingnya Pendekatan Antisipatif

Johan Rosihan menekankan bahwa pemerintah harus mengedepankan pendekatan antisipatif, bukan reaktif, dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Ia menyoroti gejolak harga di lapangan sebagai indikator bahwa persoalan pangan tidak semata pada ketersediaan, tetapi juga pada distribusi dan efektivitas stabilisasi. "Stok boleh aman di atas kertas, tapi kalau harga di lapangan masih bergejolak, artinya sistem kita belum sepenuhnya siap," katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa krisis pangan modern sering dimulai dari dinamika global yang memengaruhi seluruh rantai pasok, bukan hanya dari sawah. "Jangan tunggu harga naik baru bertindak. Kalau negara terlambat, rakyat yang akan lebih dulu merasakan dampaknya," ujar Johan. Ia menutup dengan menekankan bahwa ketahanan pangan adalah bagian dari kedaulatan negara yang harus dijaga melalui kebijakan yang cepat dan berbasis risiko global.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga