IPB University Kembangkan Cabai Habanero Lokal Pertama di Indonesia, Capai 1,3 Juta SHU
IPB Kembangkan Cabai Habanero Lokal Pertama, Capai 1,3 Juta SHU

IPB University mencatat sejarah baru dalam dunia pertanian Indonesia dengan mengembangkan cabai habanero lokal pertama di tanah air. Cabai ini memiliki tingkat kepedasan yang luar biasa tinggi, mencapai 1 juta hingga 1,3 juta Scoville Heat Units (SHU), jauh melampaui pedasnya cabai rawit biasa.

Inovasi Varietas Habanero Lokal

Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University, Prof Muhamad Syukur, mengungkapkan bahwa cabai habanero sebenarnya belum ada di Indonesia. Satu-satunya yang terdaftar sebelumnya adalah Katokkon Sayang dari Sulawesi Selatan. "Jadi, yang mendapat perlindungan varietas pertama kali untuk jenis habanero adalah rakitan kami dari IPB University," ujarnya, dikutip dari laman resmi IPB, Rabu (15/7/2026).

Empat Varietas Unggul Hasil Rakitan

Prof Syukur, yang telah menghasilkan lebih dari 30 varietas cabai unggul, merilis empat varietas cabai habanero lokal. Keempat varietas tersebut adalah Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB. Masing-masing varietas memiliki karakteristik unik, baik dari segi warna, ukuran, maupun tingkat kepedasan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak bagi Petani dan Industri

Kehadiran cabai habanero lokal ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada impor serta membuka peluang baru bagi petani dan industri pengolahan pangan. Dengan tingkat kepedasan yang ekstrem, cabai ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku saus, bumbu, hingga produk farmasi. IPB University terus mendorong inovasi serupa untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga