Dorong Ekosistem Haji Terintegrasi, RI Ekspor Bumbu dan Makanan Siap Saji
Pemerintah Indonesia telah resmi melepas ekspor bumbu pasta dan makanan siap saji atau ready to eat (RTE) untuk mendukung kebutuhan logistik jemaah haji Indonesia. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya strategis untuk mendorong penggunaan produk nasional dalam pelaksanaan ibadah haji, sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi yang terkait.
Sinergi BUMN untuk Dukungan Logistik yang Efisien
Untuk memastikan proses pengiriman berjalan lancar, pemerintah mendorong kolaborasi antara PT Garuda Indonesia dan PT Pos Indonesia. Sinergi ini bertujuan memberikan dukungan logistik haji dengan biaya yang efisien dan kompetitif, sehingga dapat mengurangi beban finansial.
Pada tahap awal, pengiriman perdana akan mengangkut 100 ton bumbu pasta dan makanan RTE, yang dilakukan secara bertahap mulai 2 hingga 6 April 2026. Sementara itu, untuk tahap berikutnya, sebanyak 130 ton telah dijadwalkan dalam rentang waktu 17 hingga 29 April 2026.
Optimalkan Potensi Ekonomi Haji dan Umrah
Ferry Irawan, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, menegaskan bahwa sinergi ini baru langkah awal. "Ke depan, kolaborasi akan dioptimalkan untuk potensi lain seperti pengiriman oleh-oleh haji dan umrah, serta makanan untuk jemaah umrah sepanjang tahun," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (2/4/2026).
Hal ini disampaikan pada acara Pelepasan Ekspor Bumbu Pasta dan Makanan RTE di Tangerang, yang dihadiri berbagai pemangku kepentingan. Penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah menjadi fokus pemerintah dalam menjaga keseimbangan devisa nasional, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menekan arus keluar devisa dan meningkatkan arus masuk.
Potensi Besar dengan Jemaah Terbanyak di Dunia
Indonesia saat ini masih memegang status sebagai negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia. Dengan lebih dari 200.000 jemaah haji per tahun dan sekitar 2 juta jemaah umrah per tahun, potensi ekosistem ekonomi tahunan sangat besar, mencakup sektor perhotelan, transportasi, logistik, konsumsi, dan layanan pendukung lainnya.
Berdasarkan data Neraca Pembayaran Indonesia, defisit neraca jasa tahun 2025 mencapai USD 19,8 miliar, dengan jasa transportasi sebagai kontributor terbesar. Sebagian dari defisit ini bersumber dari pengeluaran jemaah yang memanfaatkan layanan logistik dan konsumsi dari penyedia asing.
Semakin besar porsi layanan logistik, konsumsi, dan transportasi haji yang dipenuhi oleh penyedia nasional, semakin besar pula potensi penghematan devisa yang dapat diraih. Dengan memanfaatkan potensi ini, Indonesia diharapkan mampu mengambil posisi strategis dalam rantai nilai ekonomi dan memastikan perputaran uang terjadi di dalam negeri.
Perlunya Kolaborasi untuk Ekosistem Terintegrasi
Jaenal Effendi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, menyatakan bahwa sudah saatnya kementerian/lembaga dan BUMN berkolaborasi mewujudkan ekosistem haji dan umrah terintegrasi. "Manfaatnya tidak hanya dirasakan jemaah, tetapi juga masyarakat melalui efek pengganda dalam rantai nilai ekonomi," katanya.
Penguatan ekosistem logistik haji melalui sinergi ini diharapkan dapat berlanjut tidak hanya untuk haji, tetapi juga umrah. Layanan katering, transportasi, perdagangan, dan pendukung lainnya, termasuk oleh-oleh, dapat melibatkan penyedia layanan jasa Indonesia.
Haryo Limanseto, Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, menambahkan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti pembahasan terkait penguatan ekosistem haji. "Kita mulai saat ini tidak hanya bicara aspek ritual, tetapi juga nilai tambah ekonomi," pungkasnya.
Acara pelepasan ekspor ini juga dihadiri oleh perwakilan dari berbagai instansi, termasuk Bea dan Cukai, serta direksi PT Pos Indonesia dan PT Garuda Indonesia, menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung inisiatif ini.



