Panic Buying di Korsel: Penjualan Kantong Sampah Melonjak Tiga Kali Lipat
Panic Buying Korsel: Kantong Sampah Naik 3 Kali Lipat

Panic Buying di Korsel: Penjualan Kantong Sampah Melonjak Tiga Kali Lipat

Penjualan kantong sampah plastik di Korea Selatan mengalami peningkatan yang sangat signifikan, mencapai hingga tiga kali lipat dari biasanya. Tren kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran masyarakat mengenai pasokan nafta, bahan baku utama plastik, yang diperkirakan akan berkurang akibat konflik yang sedang terjadi di Timur Tengah.

Data Penjualan yang Mencengangkan

Berdasarkan laporan dari jaringan toko serba ada CU pada Rabu (26/3/2026), penjualan kantong sampah makanan dalam sepekan meningkat sebesar 153,3 persen dibandingkan minggu sebelumnya. Sementara itu, penjualan kantong sampah biasa melonjak lebih tinggi lagi, yaitu 216,4 persen dalam periode yang sama.

Toserba GS25 juga melaporkan peningkatan yang serupa, dengan penjualan kantong sampah makanan naik 182,7 persen dan kantong sampah biasa naik 234,5 persen. Gabungan penjualan di jaringan 7-Eleven dan Emart24 masing-masing mengalami kenaikan sebesar 169 persen dan 177 persen.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Awal Munculnya Tren Panic Buying

Tanda-tanda penimbunan produk plastik mulai terlihat sejak pertengahan Maret 2026. Waktu ini bertepatan dengan meningkatnya kekhawatiran di seluruh industri petrokimia bahwa gangguan akibat penutupan Selat Hormuz akan memengaruhi pasokan minyak dan, pada gilirannya, pasokan nafta.

Pada awal bulan, permintaan kantong sampah makanan dan kantong sampah biasa di sebagian besar toko swalayan masih relatif stabil. Namun, penjualan mulai meningkat dengan laju dua digit sejak tanggal 15 Maret.

Di CU, penjualan kantong sampah makanan naik 13,8 persen antara 15 dan 21 Maret, sementara penjualan kantong sampah biasa naik 21,3 persen. GS25 mencatat peningkatan penjualan kantong sampah makanan sebesar 20,6 persen dan kantong sampah biasa sebesar 9,0 persen dalam periode yang sama. Penjualan di 7-Eleven dan Emart24 juga mulai menunjukkan pertumbuhan dua digit.

Dampak Panic Buying pada Persediaan

Panic buying yang terjadi hampir menghabiskan persediaan kantong sampah berukuran 10 liter dan 20 liter di toko-toko, yang merupakan ukuran paling umum digunakan oleh rumah tangga. Beberapa toko dilaporkan hanya memiliki stok kantong sampah berukuran 75 liter atau lebih besar, sementara yang lain mulai membatasi pembelian atau mengurangi jumlah kantong yang dijual dalam setiap bundel.

Respons Pemerintah Korea Selatan

Menanggapi kekhawatiran yang meningkat tentang kemungkinan kekurangan kantong sampah, Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan menyatakan bahwa tidak ada masalah dengan pasokan kantong sampah. Pemerintah memiliki persediaan kantong sampah lebih dari tiga bulan di seluruh negeri.

Pembatasan pembelian per orang yang diterapkan oleh pemerintah adalah langkah pencegahan untuk mencegah panic buying yang dipicu oleh kekhawatiran atas konflik di Timur Tengah. Pejabat menegaskan bahwa tindakan ini tidak terkait dengan masalah pasokan apa pun, melainkan upaya untuk menjaga stabilitas pasar.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga