Negara Asia Terapkan Kebijakan Darurat Hemat Energi Imbas Perang Iran
Negara Asia Hemat Energi Imbas Perang Iran

Negara Asia Kompak Terapkan Kebijakan Darurat Hemat Energi Imbas Perang Iran

Perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran terus mengguncang pasokan energi global, dengan dampaknya yang mulai terasa di sejumlah negara Asia. Pakistan, Thailand, Bangladesh, dan Vietnam serentak mengumumkan langkah-langkah darurat untuk menekan konsumsi bahan bakar dan listrik di tengah lonjakan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pakistan: Sekolah Tutup dan Menteri Potong Gaji

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan serangkaian kebijakan penghematan pada Senin (09/03) lalu. Mulai pekan depan, seluruh sekolah di Pakistan akan tutup selama dua minggu, berdampak pada sekitar 40 juta siswa. Perguruan tinggi dan universitas beralih ke kuliah daring selama periode yang sama.

Kantor pemerintah, kecuali perbankan, hanya akan beroperasi empat hari dalam sepekan, dengan separuh pegawai negeri bekerja dari rumah. Jatah bahan bakar untuk kendaraan dinas dipangkas setengahnya selama dua bulan, dengan pengecualian hanya berlaku untuk ambulans dan bus umum. Pembelian kendaraan dinas baru juga ditangguhkan hingga Juni 2026.

Di tingkat pejabat, para menteri kabinet dan penasihat pemerintah sepakat melepas gaji dan tunjangan mereka. Anggota legislatif federal mau pun daerah diharapkan memotong gaji secara sukarela sebesar 25%. Pemerintah juga melarang penyelenggaraan pesta makan malam buka puasa selama Ramadan.

Pakistan telah menaikkan harga bensin dan solar sebesar 55 rupee (sekitar Rp3.316) per liter, kenaikan terbesar dalam sejarah negara itu. Karena hampir seluruh kebutuhan energinya bergantung pada impor, inflasi di Pakistan sangat rentan terhadap fluktuasi harga bahan bakar global.

"Untuk menstabilkan ekonomi, kami telah mengambil keputusan-keputusan sulit," kata Sharif dalam pidatonya yang disiarkan televisi.

Thailand Terapkan WFH Hingga Pakai Tangga

Di Thailand, Perdana Menteri Anutin Charnvirakul memerintahkan para pegawai negeri untuk bekerja dari rumah mulai Selasa (10/03), kecuali bagi mereka yang harus melayani masyarakat secara langsung.

Langkah lain yang diwajibkan antara lain mengatur suhu pendingin ruangan di kisaran 26-27 derajat Celsius, mengenakan kemeja lengan pendek sebagai pengganti pakaian formal, mematikan lampu dan peralatan listrik saat tidak digunakan, hingga menghindari penggunaan lift dan beralih ke tangga.

Perjalanan dinas ke luar negeri juga ditangguhkan. Pemerintah turut mengimbau masyarakat untuk melakukan carpooling guna mengurangi konsumsi bahan bakar.

Jika situasi semakin memburuk, pemerintah berencana menerapkan langkah yang lebih ketat, seperti meredupkan papan iklan di pertokoan, bioskop, dan gedung komersial, serta menutup SPBU pukul 22.00.

Thailand saat ini memiliki cadangan energi untuk sekitar 95 hari ke depan. Sebanyak 68% kebutuhan energinya dipasok dari gas alam, dan negara itu tengah mencari pasokan LNG tambahan dari Amerika Serikat, Australia, dan Afrika Selatan.

Bangladesh Tutup Universitas Demi Hemat Listrik

Bangladesh menutup seluruh universitas negeri dan swasta sebagai bagian dari langkah darurat penghematan energi, dengan mempercepat libur Idulfitri.

Pemerintah menilai kampus-kampus universitas menyedot listrik dalam jumlah besar untuk asrama, ruang kelas, laboratorium, dan pendingin ruangan. Penutupan ini juga diharapkan mengurangi kemacetan lalu lintas yang selama ini memboroskan bahan bakar. Sekolah pemerintah dan swasta di Bangladesh sendiri sudah tutup sejak awal Ramadan, sehingga hampir seluruh institusi pendidikan di negara itu kini libur.

Sekolah dengan kurikulum asing dan pusat bimbingan belajar swasta juga diminta menghentikan operasional sementara.

Bangladesh bergantung pada impor untuk 95% kebutuhan energinya. Pemerintah sudah memberlakukan pembatasan harian pembelian bahan bakar sejak Jumat (06/03) lalu menyusul aksi panic buying dan penimbunan. Krisis gas yang parah bahkan memaksa empat dari lima pabrik pupuk milik negara menghentikan operasinya, dengan pasokan gas yang ada dialihkan ke pembangkit listrik demi menghindari pemadaman massal.

Bangladesh juga terpaksa membeli LNG dari pasar spot dengan harga yang jauh lebih tinggi untuk menambal kekurangan pasokan.

Antrean Panjang di SPBU Vietnam, Tarif Impor Dihapus

Di Vietnam, Kementerian Perdagangan meminta pelaku usaha mendorong karyawan mereka untuk bekerja dari rumah guna menghemat konsumsi bahan bakar. Pemerintah juga menyerukan agar masyarakat tidak menimbun atau berspekulasi soal bahan bakar.

Vietnam termasuk negara yang paling terdampak oleh gangguan pasokan akibat perang Iran, mengingat ketergantungannya yang tinggi pada impor energi dari Timur Tengah. Sejak akhir bulan lalu, harga bensin di Vietnam naik 32%, solar 56%, dan minyak tanah melonjak hingga 80%. Antrean panjang kendaraan terlihat di berbagai SPBU di Hanoi pada Selasa (10/03) kemarin.

Sebagai respons darurat, Vietnam pada Senin (09/03) memutuskan menghapus tarif impor bahan bakar, berlaku hingga akhir April. Perdana Menteri Pham Minh Chinh juga menghubungi langsung para pemimpin Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab untuk mengamankan pasokan bahan bakar dan minyak mentah bagi negaranya.