Mampukah Merz Selamatkan Industri Jerman dari Dominasi China?
Kebangkitan China dari kemiskinan menuju ekonomi terbesar kedua dunia telah mengubah aturan globalisasi secara mendasar. Ambisi Beijing untuk menguasai teknologi kelas atas kini dikerjakan dengan kecepatan yang luar biasa, menciptakan gelombang baru tantangan bagi negara-negara maju seperti Jerman.
Gelombang Kedua 'China Shock' dan Dampaknya pada Jerman
Jika Amerika Serikat dan Inggris memiliki waktu puluhan tahun untuk menyerap 'China shock' pertama pada pergantian abad, Jerman kini menghadapi gelombang kedua dengan jeda yang hampir tidak ada. Tanda-tanda investasi raksasa Beijing di sektor teknologi tinggi mulai membuahkan hasil, terutama setelah mobil listrik (EV) pertama asal China tiba di pelabuhan Eropa pada 2023.
Banyak yang awalnya meragukan kemampuan kendaraan listrik China untuk menggerus dominasi pabrikan legendaris Jerman seperti Volkswagen, BMW, dan Mercedes-Benz. Namun, dalam dua tahun terakhir, produsen otomotif China telah menjelma menjadi kekuatan disruptif di pasar Eropa, menekan penjualan ekspor Jerman ke China yang merosot dua pertiga sejak 2022 menurut data Eurostat.
Ekspor Jerman dalam Fase Kemunduran Struktural
Rivalitas yang semula terkonsentrasi di sektor otomotif kini merembet ke berbagai industri lain. Tahun lalu, ekspor barang Jerman ke China turun 9,3% menjadi €81,8 miliar—terendah dalam satu dekade—sementara impor dari China melonjak signifikan. Andrew Small, Direktur Program Asia di European Council on Foreign Relations, menyatakan bahwa Jerman berada di jantung 'China shock' kedua, dengan kedua ekonomi yang dulu saling melengkapi kini berfungsi sebagai pesaing sengit.
Pekan lalu, lembaga riset Rhodium Group memperingatkan bahwa perdagangan keluar Jerman ke China telah memasuki fase 'kemunduran struktural'. Tanpa pasar alternatif yang memadai, gelombang kebangkrutan dan pemutusan hubungan kerja yang menghantam Jerman diperkirakan akan semakin cepat. Laporan mereka mencatat bahwa pesaing China mulai merebut pangsa pasar produsen Jerman di sektor mesin, kimia, dan sistem pembangkit listrik.
Kunjungan Merz ke Beijing dan Upaya Stabilisasi
Di tengah situasi ini, Kanselir Friedrich Merz bersiap melakukan kunjungan resmi perdananya ke China. Dia diperkirakan akan berjalan di atas garis tipis: menegaskan pentingnya China bagi industri Jerman, sembari mendesak Beijing untuk menjawab kekhawatiran lama soal akses pasar dan kelebihan kapasitas produksi.
Hubungan bilateral sempat merenggang sejak pandemi yang menyingkap ketergantungan Jerman pada suku cadang dan bahan baku dari China. Muncul kebijakan derisking—mengurangi risiko—dengan mendiversifikasi pemasok. Menurut Stefan Messingschlager dari Helmut-Schmidt-University Hamburg, target yang lebih realistis adalah 'stabilisasi yang dikelola' daripada reset total.
Peran Uni Eropa dalam Melindungi Industri Jerman
Alih-alih menyelesaikan semua persoalan secara bilateral, Merz diperkirakan akan mengandalkan dukungan Uni Eropa melalui kebijakan anti-dumping dan anti-subsidi. Dalam pertemuan puncak daya saing di Belgia pekan lalu, para pemimpin Uni Eropa menyepakati agenda industri yang lebih agresif, termasuk kebijakan 'Buy European' untuk pengadaan sektor publik.
Uni Eropa juga mempercepat perjanjian dagang dengan India dan sejumlah ekonomi utama Amerika Latin, yang diharapkan dapat membuka pasar pertumbuhan baru bagi eksportir Jerman. Namun, Rhodium mengingatkan bahwa produsen China bisa segera memimpin di pasar-pasar tersebut jika hambatan perdagangan tidak ditegakkan dengan ketat.
Strategi Pertahanan dan Masa Depan Industri Jerman
Andrew Small menilai bahwa diversifikasi saja tidak cukup tanpa langkah pertahanan yang kuat. Uni Eropa perlu menggandeng negara-negara lain yang juga ingin melindungi industrinya dari serbuan pesaing China. Respons kolektif dari banyak mitra dagang diharapkan dapat mengirim pesan jelas ke Beijing.
Sejumlah ekonom bahkan membandingkan tekanan terhadap industri Jerman dengan nasib Detroit—dulu jantung industri otomotif Amerika Serikat—yang terpuruk dalam dekade panjang kemunduran ekonomi. Rhodium mencatat adanya 'kepanikan' di sebagian industri Jerman atas laju pesat China, dengan retorika politik yang keras di Berlin dinilai belum diikuti tindakan setimpal.
Tanpa ancaman kredibel untuk membatasi akses ke pasar Eropa, China tidak memiliki insentif untuk menahan laju ekspornya. Sementara itu, industri Jerman akan terus berjibaku menghadapi pesaing yang jauh lebih besar—yang, menurut banyak pengamat, tidak selalu bermain dengan aturan yang sama dalam perdagangan global.



