Kenaikan Harga Pertamax Dorong Pengguna Beralih ke Pertalite
Kenaikan harga Pertamax diperkirakan akan mendorong sebagian pengguna kendaraan untuk mempertimbangkan beralih ke bahan bakar minyak (BBM) dengan angka oktan yang lebih rendah, seperti Pertalite. Pasalnya, harga Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, atau meningkat sekitar 32 persen.
Dampak Langsung pada Mesin Kendaraan
Namun, perpindahan langsung dari Pertamax ke Pertalite disebut dapat menimbulkan dampak yang langsung dirasakan saat kendaraan digunakan. Lantas, apa dampak penggunaan BBM dengan oktan lebih rendah terhadap mesin kendaraan?
Penurunan Performa Mesin
Penggunaan bahan bakar dengan angka oktan yang lebih rendah dari spesifikasi mesin dapat menyebabkan penurunan performa. Mesin yang dirancang untuk menggunakan bahan bakar beroktan tinggi, seperti Pertamax (RON 92), akan mengalami knocking atau detonasi jika menggunakan bahan bakar dengan oktan lebih rendah, seperti Pertalite (RON 90). Knocking adalah ledakan tidak sempurna yang dapat merusak komponen mesin dalam jangka panjang.
Efek pada Konsumsi BBM
Selain itu, penggunaan BBM dengan oktan lebih rendah juga dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar. Mesin harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan tenaga yang sama, sehingga konsumsi BBM menjadi lebih boros. Hal ini dapat mengimbangi penghematan yang diperoleh dari harga Pertalite yang lebih murah.
Risiko Kerusakan Mesin
Dalam jangka panjang, penggunaan bahan bakar dengan oktan yang tidak sesuai dapat menyebabkan kerusakan pada komponen mesin, seperti piston, ring piston, dan katup. Knocking yang terus-menerus dapat menyebabkan overheat dan mengurangi umur mesin. Oleh karena itu, pemilik kendaraan disarankan untuk tetap menggunakan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan.
Tips Mengatasi Kenaikan Harga BBM
Bagi pengguna yang ingin menghemat pengeluaran akibat kenaikan harga Pertamax, ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan, seperti menggunakan bahan bakar dengan oktan yang lebih rendah namun masih dalam batas toleransi mesin, melakukan perawatan mesin secara rutin, atau mengadopsi gaya berkendara yang efisien. Namun, perubahan ke bahan bakar dengan oktan lebih rendah sebaiknya dilakukan secara bertahap dan dengan konsultasi kepada ahli.



