Harga Minyak Goreng Naik, DPR Minta Pemerintah Bergerak Cepat Kendalikan
Harga Minyak Goreng Naik, DPR Minta Pemerintah Bergerak

Jakarta - Anggota Komisi VI DPR, Nasim Khan, mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah pengendalian terhadap kenaikan harga minyak goreng yang terjadi di berbagai daerah. Permintaan ini disampaikan menyusul laporan yang diterimanya mengenai lonjakan harga komoditas tersebut di pasaran.

"Kami mendapat laporan adanya kenaikan harga minyak goreng di pasaran. Kenaikan ini harus segera direspons cepat oleh pemerintah. Pemerintah harus mampu mengendalikan harga minyak goreng," ujar Nasim Khan di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Dampak Kenaikan Harga Minyak Goreng

Politikus dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menegaskan bahwa kenaikan harga minyak goreng tidak boleh dianggap remeh. Pasalnya, minyak goreng merupakan kebutuhan pokok yang digunakan hampir di setiap rumah tangga, sehingga dampaknya akan langsung terasa pada kehidupan sehari-hari masyarakat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Kenaikan harga minyak goreng akan menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah. Biaya kebutuhan dapur meningkat, dan pada akhirnya memicu kenaikan harga makanan jadi di pasaran," jelas Nasim.

Lebih lanjut, ia menyoroti dampak terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya di sektor kuliner. Kenaikan harga minyak goreng dapat meningkatkan biaya produksi, menurunkan margin keuntungan, dan bahkan memaksa pelaku usaha untuk menaikkan harga jual atau mengurangi kualitas produk.

"Kondisi ini bisa memicu efek berantai, mulai dari penurunan omzet UMKM, berkurangnya daya beli masyarakat, hingga meningkatnya potensi inflasi bahan pangan," ungkap Nasim.

Solusi Jangka Pendek: Operasi Pasar

Nasim Khan berharap pemerintah segera melakukan operasi pasar untuk menyediakan minyak goreng dengan harga terjangkau. Menurutnya, operasi pasar merupakan solusi jangka pendek yang efektif untuk menstabilkan harga.

"Operasi pasar bisa menjadi solusi jangka pendek untuk menstabilkan harga. Pemerintah harus memastikan distribusi lancar dan harga tetap terjangkau agar masyarakat tidak semakin terbebani," kata Nasim.

Upaya Menteri Perdagangan

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso telah merumuskan strategi untuk menurunkan harga minyak goreng kemasan, baik merek Minyakita maupun premium. Ia mengidentifikasi bahwa kenaikan harga plastik menjadi salah satu penyebab utama mahalnya harga minyak goreng.

"Ya secepatnya (bisa normal). Karena kita kan tidak mesti ngomongin (pasokan) minyaknya saja kan, karena tadi saya bilang yang kebanyakan faktornya karena dari (kenaikan harga) plastik," ungkap Budi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Budi menyatakan bahwa salah satu upaya yang dilakukan adalah menjaga produksi plastik di tingkat industri dengan memastikan ketersediaan bahan bakunya. Langkah ini diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan harga plastik dari hulu.

"Ini yang plastik juga harus diselesaikan, makanya kami komunikasi dengan produsen, bahwa produsen menyampaikan sebenarnya produksi jalan terus, enggak ada masalah. Jadi mudah-mudahan sih gak ada kendala," tuturnya.

Jika masalah bahan baku plastik dan harga sudah berangsur normal, Budi berharap tidak ada gangguan di lini distribusi. Dengan demikian, harga jual minyak goreng, termasuk Minyakita, diharapkan bisa kembali ke kondisi normal.

"Harapan kami produksi plastik yang normal jangan sampai juga nanti distribusinya tetap mahal. Karena kalau produksi yang sudah normal ya distributor juga harus menyesuaikan," jelas dia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga