Wisata Air Panas Guci Sepi Pasca Banjir Bandang, MPR Dorong Reboisasi dan Penataan
Objek wisata air panas Guci di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, mengalami penurunan minat pengunjung yang signifikan setelah diterjang banjir bandang pada akhir tahun 2025 dan awal 2026. Kondisi ini mendorong kunjungan langsung dari Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, Ahmad Muzani, bersama dengan anggota DPR RI, perwakilan Kementerian Pariwisata, Kementerian Agama, serta pemerintah setempat untuk meninjau kerusakan yang terjadi.
Dugaan Penyebab Banjir dan Dampaknya
Muzani menyatakan bahwa banjir bandang yang terjadi pada 20 Desember 2025 dan 24 Januari 2026 telah menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas wisata, termasuk jembatan penyeberangan dan lokasi pemandian air panas, khususnya Pancuran 13 yang menjadi daya tarik utama. "Banjir bandang dari atas menyebabkan jembatan dan Pancuran 13 hancur," ujarnya dalam kunjungan pada Senin, 16 Februari 2026.
Lebih lanjut, Muzani menduga bahwa penebangan pohon di bagian hulu aliran sungai di kawasan wisata Guci menjadi pemicu meningkatnya debit air, yang akhirnya memicu banjir bandang. "Pada bagian atas aliran air sungai, terdapat penebangan pohon sehingga debit air besar memicu banjir," jelasnya. Akibat bencana ini, tidak hanya infrastruktur yang rusak, tetapi juga ekonomi masyarakat sekitar yang bergantung pada pariwisata turut terdampak akibat menurunnya jumlah pengunjung.
Usulan Pemulihan dan Aspirasi Masyarakat
Dalam upaya pemulihan, Muzani meminta Pemerintah Kabupaten Tegal untuk berkoordinasi dengan Perhutani dalam melakukan penanaman pohon kembali atau reboisasi di lereng Gunung Slamet. "Sama Perhutani, penanaman kembali di lereng-lereng gunung agar terjadi reboisasi," tegasnya. Selain itu, ia juga mendengarkan aspirasi masyarakat yang menginginkan perbaikan jembatan yang hancur dan penataan ulang objek wisata.
Masyarakat setempat bahkan mengusulkan agar Pancuran 13, sebagai objek utama wisata air panas Guci, digratiskan untuk umum. Saat ini, pengunjung dikenakan retribusi sebesar Rp27.000. Muzani mendukung usulan ini, dengan alasan bahwa kawasan wisata Guci berada di Taman Wisata Alam dan seharusnya dapat dinikmati oleh masyarakat luas, baik dari sekitar maupun luar daerah. "Kita ingin pemerintah memperhatikan persoalan objek vital ini dengan menggratiskannya," ungkapnya.
Respons Pemerintah Daerah dan Upaya Penanganan
Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman, menanggapi dengan menyatakan bahwa wisata air panas Guci telah dibuka untuk umum tanpa biaya masuk. Namun, ia mengakui bahwa masih terdapat titik rawan di sekitar Pancuran 13. "Guci masih dibuka, tiket masuk depan juga kami gratiskan," tuturnya. Pemerintah Kabupaten Tegal bersama TNI dan Polri telah menyiagakan petugas untuk menjaga keamanan wisatawan di area yang berpotensi bahaya.
Sebelumnya, status tanggap darurat ditetapkan selama 14 hari pasca-banjir bandang 24 Januari 2026, meskipun tidak ada korban jiwa atau rumah yang terdampak. Kerusakan terfokus pada fasilitas wisata, termasuk tiga jembatan yang hilang. Kepala BPBD Kabupaten Tegal, M Afifudin, menjelaskan bahwa upaya penanganan darurat termasuk mendesain ulang kawasan wisata agar lebih aman. "Kami mengupayakan desain kawasan lebih aman pasca-bencana. Jembatan akan dibangun lagi setelah puncak hujan selesai," katanya.
Fasilitas yang rusak dan ditutup sementara meliputi Pancuran 13, Pancuran 5, dan pemandian air panas, akibat tumpukan material pasir dan batu. Debit air sungai Gung di kawasan tersebut saat ini terpantau normal, meski curah hujan masih terjadi. Rencana pembangunan kembali jembatan diperkirakan akan dimulai setelah musim penghujan berakhir, sekitar pertengahan Februari 2026, sebagai bagian dari strategi pemulihan jangka panjang untuk menghidupkan kembali pariwisata Guci.