Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa penguatan ekosistem pariwisata dan city branding menjadi kunci utama dalam pengembangan pariwisata daerah. Menurutnya, potensi destinasi wisata tidak akan berkembang optimal tanpa dukungan infrastruktur, konektivitas, hospitality, dan kolaborasi lintas sektor.
Pernyataan dalam Rakornas Pariwisata 2026
Hal tersebut disampaikan Bima saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata Tahun 2026 yang mengusung tema 'Optimalisasi, Resiliensi, Inovasi dan Keberlanjutan Transformasi Ekosistem Kepariwisataan Nasional Menuju Pencapaian Target 2026'. Acara tersebut digelar di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta.
"Bicara ekosistem yang paling jelas tentu contohnya adalah desa wisata. Bagaimana desa wisata ini bisa menjadi the driving force untuk pertumbuhan ekonomi penggerak di daerah," ujar Bima dalam keterangan tertulis, Kamis (21/5/2026).
Contoh Daerah dengan Potensi Terhambat
Bima mencontohkan sejumlah daerah yang memiliki potensi wisata besar, tetapi belum berkembang optimal akibat lemahnya dukungan ekosistem. Persoalan tersebut meliputi aksesibilitas yang buruk, keterbatasan infrastruktur, minimnya konektivitas penerbangan, hingga kurangnya fasilitas penunjang seperti hotel dan layanan wisata yang memadai.
Sport Tourism sebagai Sektor Potensial
Selain itu, Bima menilai sport tourism menjadi salah satu sektor yang sangat potensial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Menurutnya, sejumlah daerah mulai berhasil memanfaatkan ajang olahraga sebagai daya tarik wisata melalui dukungan pemerintah daerah, pelaku usaha, aparat keamanan, hingga keterlibatan masyarakat.
City Branding: PR Utama Kepala Daerah
"PR pertama sesungguhnya dari semua kepala daerah adalah city branding. Kota dan kabupaten itu mau dibangun branding-nya seperti apa. City branding itu tentang citra, cerita, dan cita-cita. Tidak semua kepala daerah concern tentang city branding, padahal semuanya harus mulai dari sini," kata Bima.
Bima menjelaskan bahwa city branding menjadi dasar dalam menentukan arah pembangunan daerah, termasuk kebijakan, program, dan penganggaran sektor pariwisata. Karena itu, setiap daerah perlu membangun identitas yang kuat berbasis sejarah, budaya, maupun potensi unggulan daerah masing-masing.
Tiga Tantangan Utama Pariwisata Daerah
Lebih lanjut, Bima menegaskan bahwa penguatan pariwisata daerah membutuhkan kepemimpinan kepala daerah yang fokus membangun ekosistem secara menyeluruh. Menurutnya, terdapat tiga tantangan utama dalam pengembangan pariwisata daerah, yakni infrastruktur, budaya hospitality, dan penguatan city branding.
Kolaborasi Kemendagri dengan Pemangku Kepentingan
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) siap berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi berbagai hambatan kebijakan dan regulasi dalam mengembangkan pariwisata daerah. Upaya ini dilakukan agar sektor tersebut mampu menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus memperkuat identitas daerah.



