Rempah melimpah sejatinya menjadi sebuah kemewahan bagi masyarakat Maluku Tengah. Tetapi di masa penjajahan, hasil bumi itu malah memicu masalah. Zaman kolonial, kampung mereka pernah dikuasai penjajah. Masyarakat setempat terusir. Semua luka masih membekas di ingatan. Sedih dan menyakitkan.
Konflik dan Kerinduan akan Kedamaian
Setelah masa penjajahan berlalu, Maluku Tengah dihantam konflik lain. Konflik sosial di tahun 90-an membuat kehidupan warga kembali sulit. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat setempat mulai menyadari. Mereka hanya butuh hidup damai dan saling menghargai.
"Pasca-konflik dulu, warga Maluku Tengah cuma ingin hidup damai selalu," cerita Dulawawi, warga setempat saat Liputan6.com berkunjung ke Pulau Tiga, Kamis (28/6/2026). Nusa Ela Pulau Tiga adalah salah satu dusun di Desa Ureng, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah. Bila menggunakan mobil dari Kota Ambon, butuh waktu 2,5 jam untuk sampai ke Desa Ureng. Jalurnya tak lebar, di antara pemukiman warga dan perkebunan hutan. Menanjak dan menurun. Tetapi, tak akan bosan. Di sisi kiri jalan, sejauh mata memandang lautan lepas indah dengan air jernih menemani perjalanan. Di belakang rumah warga Desa Ureng, sejumlah kapal motor sudah menunggu. Siap menyeberangi lautan Maluku Tengah menuju Pulau Tiga. Tak sampai 30 menit, perahu tiba disambut hamparan pasir putih dan pantulan terumbu karang di dasar laut yang terlihat jelas.
"Kampung kami terpencil tapi indahkan?" kata warga menyambut rombongan Dompet Dhuafa saat menyerahkan hewan kurban dalam Program The Kurban Series 1447 H. Siang itu, warga menyemut di tembok yang menjadi gerbang kampung. Ibu-ibu kompak mengenakan gamis putih serasi dengan kerudung kuning kunyit. Remaja pria berdiri rapi dengan setelan koko putih celana hitam. Di tangan mereka, rebana siap ditabuh.
"Bagi kampung kami, tamu wajib dihormati," ujar salah satu warga. Warga dusun Pulau Tiga tampak mempersiapkan dengan matang persembahan Salawat yang ditampilkan hari itu. Terlihat dari kekompakan mereka, saling bersahutan. Sementara tim ibu-ibu membawa umbul-umbul dari plastik. Jika di pulau Jawa, sambutan semacam ini seperti iringan ketibaan calon pengantin.
Dulawawi menambahkan, bagi warga setempat, keterbatasan bukan penghalang untuk menyambut tamu jauh yang datang. Apalagi, mereka yang ingin memberikan bantuan. Meski hanya sederhana, tetapi segala upaya mereka persiapkan. "Ini juga bagian dari cara kami berterima kasih. Apalagi yang disumbangkan hewan kurban," katanya.
Tiga Sapi Kurban Jawaban Penantian
Di beberapa daerah, hewan kurban mungkin bisa melimpah. Tetapi di Pulau Tiga, warga butuh waktu bertahun-tahun untuk menikmati hewan kurban. Bergantung pada uluran tangan orang-orang baik. Warga sampai lupa, kapan terakhir kali mendapatkan bantuan hewan kurban. Karena waktunya memang tak tentu. Jika pun ada, jumlahnya terbatas. Tak cukup dibagikan satu kampung.
"Warga kita juga tidak ada yang ternak sapi, jadi kalau tidak ada yang memberikan bantuan apa mau di kata. Begitulah nasib hidup di pulau terpencil," ujar warga. Sebagai warga kepulauan, hewan kurban benar-benar menjadi kerinduan mendalam. Bukan hanya karena perayaannya tetapi hanya di waktu itulah mereka bisa menyantap daging sapi gratis. Itu sebabnya, ketika mendapat kabar 3 ekor sapi diserahkan sebagai hewan kurban, mereka senang bukan main.
Selasa (26/5/2026) sore, anak-anak sudah ramai menunggu di bibir pantai. Siap menyambut kedatangan tiga buah perahu motor berlayar dari Desa Ureng yang mengangkut tiga ekor sapi. Sapi diikatkan dengan posisi rebah di atas perahu. Kemudian dilayarkan menerjang ombak menuju Pulau Tiga.
"Bagi kami makan sapi itu kemewahan, karena setiap hari kami makan ikan. Butuh penantian buat menikmati daging sapi, karena kalau tidak Idul Adha, bahkan Idul Fitri pun rasanya tak mungkin kami bisa makan sapi. Maka dari itu penyambutan kami sebagai ucapakan terima kasih pada Dompet Dhuafa yang memberikan 3 sapi kurban saya pastikan itu bukan sesuatu yang berlebihan," katanya.
Sehari setelah salat Idul Adha, sapi-sapi itu digiring dari lapangan sambil diiringi salawat untuk dilakukan penyembelihan. Kemudian dimasukkan ke tas anyaman daun kepala yang disebut Kamboti lalu dibagikan ke 60 kepala keluarga. "Kami suka sekali, mama di rumah akan buatkan sate dan bumbu kuning biasanya," ujar anak-anak Pulau Tiga riang gembira.
Menunaikan Janji
Pimpinan Dompet Dhuafa Maluku, La Januri, menjelaskan 3 ekor sapi yang disumbangkan memang bantuan pertama kali yang diberikan pihaknya di Pulau Tiga. "Saya beberapa bulan lalu bawa anak mahasiswa sebagai volunteer Dompet Dhuafa ke sini. Kita bagikan Alquran. Lalu saya bertemu tokoh agama di sini saya pernah bilang Insya Allah akan upayakan hewan untuk Pulau Tiga. Dan hari ini kita wujudkan. Kita titipkan 3 sapi, semoga cukup. Ini amanah masyarakat Indonesia," katanya disebut tepuk riuh warga.
Warga bersyukur. Meski di pulau terpencil, kemeriahan Idul Adha tahun ini tak ubahnya daerah lain. Mereka tak merasa ditinggalkan bahkan dalam momen perayaan keagamaan. Harapan mereka tak muluk-muluk, tahun depan semakin banyak tangan-tangan baik memberikan perhatian. "Melihat kebaikan hari ini, inilah yang dinamakan Katong Samua Orang Basudara," ucap ibu Hasnah sembari tersenyum semringah.



