Hampir dua abad setelah gempa dahsyat berkekuatan magnitudo 8,8 mengguncang Sumatera bagian tengah pada 1833, energi tektonik yang memicu bencana serupa kembali menumpuk. Peneliti menemukan dua zona di Sumatera bagian tengah yang kini menyimpan akumulasi tegangan terbesar dan berpotensi memicu gempa berkekuatan mendekati magnitudo 9.
Temuan Penelitian Terbaru
Temuan itu diungkap peneliti dari Institut Teknologi Sumatera (Itera), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam studi yang terbit di jurnal Geodesy and Geodynamics awal Juli ini. Untuk memetakan kondisi bawah permukaan, tim menganalisis data dari 35 stasiun Global Navigation Satellite System (GNSS) yang merekam deformasi kerak Bumi secara kontinu sepanjang 2018 hingga pertengahan 2021.
Akumulasi Tegangan di Dua Zona
Hasil analisis menunjukkan bahwa dua zona di segmen Megathrust Sumatera bagian tengah, yaitu di Kepulauan Mentawai dan pesisir barat Sumatera Barat, mengalami penguncian (locking) yang sangat kuat. Zona ini diperkirakan telah mengakumulasi tegangan tektonik dalam jumlah besar sejak gempa besar terakhir pada 1833. Menurut peneliti, jika seluruh energi yang tersimpan dilepaskan secara bersamaan, gempa yang dihasilkan bisa mencapai magnitudo 8,9 hingga 9,0.
Potensi Dampak dan Kesiapsiagaan
Gempa sebesar itu berpotensi memicu tsunami dahsyat yang dapat menerjang pesisir Sumatera Barat, Bengkulu, dan Kepulauan Mentawai. Peneliti menekankan pentingnya mitigasi bencana dan kesiapsiagaan masyarakat, mengingat siklus gempa besar di wilayah ini diperkirakan terjadi setiap 200-300 tahun. Studi ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat infrastruktur tahan gempa dan sistem peringatan dini tsunami.



