Universitas Ciputra (UC) Surabaya melalui Program Studi S3 Doktor Manajemen dan Entrepreneurship menyelenggarakan webinar internasional bertajuk "The Future of Work, Cross Border Employment and Global Labor Competitiveness in a Global Economy" pada Kamis (28/5/2026). Acara ini membahas fenomena mobilitas tenaga kerja global, ancaman brain drain, serta tantangan daya saing sumber daya manusia di era digital dan kecerdasan buatan (AI).
Kolaborasi dengan Berbagai Pihak
Dalam kegiatan ini, Universitas Ciputra berkolaborasi dengan Universitas Utara Malaysia, World Vision, serta menghadirkan narasumber internasional dari kalangan praktisi global dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ketua Program Studi Doktor Manajemen dan Entrepreneurship UC, Dr David Sukardi Kodrat, menyatakan bahwa fenomena migrasi tenaga kerja global kini menjadi isu penting yang perlu mendapat perhatian serius, terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia.
Ketidakseimbangan Demografi Global
David menjelaskan bahwa saat ini terjadi ketidakseimbangan demografi global. Negara maju seperti Australia, Jepang, Kanada, dan Selandia Baru mengalami kekurangan tenaga kerja, sementara negara berkembang termasuk Indonesia justru surplus tenaga kerja usia produktif. "Mobilitas tenaga kerja ini seperti dua mata pisau. Di satu sisi bisa menjadi solusi ekonomi, tetapi di sisi lain juga dapat menjadi jebakan pembangunan jika tidak dikelola dengan baik," ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (3/6/2026).
Migrasi Tenaga Kerja dan Risiko Brain Drain
David melanjutkan bahwa peningkatan migrasi pekerja ke luar negeri dapat memunculkan ketergantungan ekonomi berbasis remitansi. Di sisi lain, kondisi tersebut juga berisiko memicu brain drain atau kehilangan talenta terbaik dari daerah asal. "Hal yang hilang tidak hanya pekerjanya, tetapi juga struktur sosial komunitas. Desa kehilangan tenaga produktif, keluarga kehilangan figur pengasuhan, dan kohesi sosial bisa melemah," ujarnya.
David menyebut fenomena ini mulai memunculkan budaya migrasi di kalangan generasi muda. Menurutnya, banyak anak muda menganggap kesuksesan hanya bisa diraih dengan bekerja di luar negeri. "Kalau ini terus terjadi, pembangunan lokal bisa stagnan karena talenta terbaik justru keluar," katanya.
Paparan dari Narasumber Internasional
Regional Director World Vision Kendra yang turut menjadi narasumber webinar memaparkan kondisi nyata migrasi tenaga kerja di kawasan Pasifik dan Asia. Sementara itu, pembicara kedua dari PBB, Luigi, membahas strategi solusi dan diplomasi global terkait ketenagakerjaan lintas negara.
Sorotan pada Pekerja Migran Indonesia
Mahasiswa doktoral UC yang juga Chief Executive Officer (CEO) MSS Group, Lala Wee, mengatakan bahwa tema webinar ini dipilih setelah tim akademis melakukan program sandwich di Universitas Utara Malaysia. Diskusi menyoroti kondisi pekerja migran Indonesia dan pentingnya pengelolaan migrasi yang berkelanjutan.



