Deretan truk sampah mengular panjang di pintu masuk Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Satu per satu kendaraan bergerak pelan, menunggu giliran masuk, menimbang muatan, lalu membuang isi perutnya ke gunungan sampah yang terus meninggi. Pemandangan ini berlangsung nyaris tanpa jeda. Truk datang dan pergi, berganti dalam ritme yang sama setiap hari.
Pembatasan Truk dan Volume Sampah
Sebelum masuk ke area pembuangan, setiap truk wajib melewati timbangan. Setelah itu, sopir diarahkan ke zona tertentu untuk menurunkan sampah. Usai membongkar muatan, sebagian truk berhenti sejenak untuk mencuci kendaraan, sementara lainnya langsung keluar dari lokasi. Di kejauhan, alat berat berwarna kuning tampak tak berhenti bekerja. Beko-beko itu mengeruk tumpukan sampah yang terus bertambah, membentuk lanskap seperti bukit buatan manusia.
Seorang petugas TPST Bantargebang menyebut jumlah truk yang masuk kini dibatasi. "Jumlah truk, biasanya TPST Bantargebang itu 1200-1300 per hari, namun saat ini ada pembatasan jumlah per harinya sekitar 600-900 truk," ujarnya. Pembatasan itu berdampak pada volume sampah yang masuk, yang kini berkisar sekitar 7.120 ton per hari, berdasarkan catatan April 2026. "3 shift, tujuannya pembatasan volume sampah yang masuk ke Bantargebang," katanya.
Gunung Sampah Setinggi 40 Meter
Pembatasan tersebut bukan tanpa alasan. Tumpukan sampah di Bantargebang kini telah menjulang hingga sekitar 40 meter, setara belasan lantai gedung. Kondisi ini dirasakan langsung oleh warga yang tinggal di sekitar lokasi. Salah satunya Jay (nama samaran), yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari gunungan sampah. "Ya perbedaannya paling ya, dulu mah kalau pembuangan itu kan dalam. Ya sekarang udah tingginya itu, udah tinggi banget gitu, 35-40 meter ada. Tinggi, udah kayak di puncak," ujar Jay.
Bagi Jay, bau sampah bukan lagi hal yang mengganggu. Ia mengaku sudah terbiasa, meski aroma menyengat kerap muncul saat musim hujan. "Kalau udara kayaknya sama sih ya, paling kalau musim hujan tuh rada bau juga. (Karena) basah. Iya, ya enggak menyengat banget sih (baunya), karena kan udah biasa kalau saya," ungkapnya. Namun, bau bisa menjadi lebih kuat ketika truk membawa sampah basah, terutama dari pasar. "Kecuali paling kayak ada sampah dari Pasar Induk, mobil lewat itu bau," tambahnya.
Meski hidup berdampingan dengan tumpukan sampah, Jay mengaku tidak mengalami gangguan pernapasan serius. Ia justru lebih sering mengalami sakit ringan seperti meriang atau cedera akibat lingkungan sekitar. "Sakit biasa, paling meriang-meriang. Kalau kehujanan," katanya.
Darurat Sampah Jakarta
Kondisi Bantargebang juga menjadi sorotan pemerintah pusat. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyebut persoalan sampah Jakarta sudah dalam tahap darurat. "Timbunan sampah Jakarta mencapai sembilan ribu lebih, sembilan ribu ton per hari, ya. Saat ini 87 persen masih bergantung pada open dumping seperti Bantargebang yang sudah jauh melebihi kapasitas," ujar Zulhas. Ia bahkan mengibaratkan tinggi tumpukan sampah di Bantargebang setara gedung bertingkat. "Kalau diukur Bantargebang itu seperti gedung berapa lantai itu? 16, 17 lantai," katanya.
Menurutnya, persoalan ini mendapat perhatian langsung dari Prabowo Subianto. "Bahkan Jakarta ini mendapat perhatian khusus dari Bapak Presiden. Kami hampir tiap minggu ditelepon soal sampah, utamanya Bantargebang," ucapnya.



