Insiden mati listrik di Sumatera memicu dampak berantai yang melumpuhkan aktivitas warga dan pelaku usaha. Bukan hanya kegelapan yang dirasakan, tetapi juga kerugian ekonomi dan sosial yang signifikan.
Pabrik Menghentikan Operasional
Sejumlah pabrik di Sumatera memilih untuk menghentikan operasional mereka karena harga solar industri yang digunakan untuk menghidupkan genset terbilang sangat tinggi. Hal ini membuat biaya produksi melonjak drastis, sehingga tidak ekonomis untuk melanjutkan produksi.
UMKM dan Peternak Terpukul
Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga merasakan dampak berat. Alat-alat produksi mereka tidak dapat beroperasi tanpa listrik, menyebabkan kerugian pendapatan yang signifikan. Sementara itu, para peternak ikut menjerit karena ayam-ayam mereka mati di kandang akibat kurangnya ventilasi dan sistem pendingin yang bergantung pada listrik.
Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Niti Emiliana, menyatakan bahwa pemadaman listrik ini menimbulkan kerugian besar baik bagi masyarakat umum maupun pelaku usaha. Ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem kelistrikan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.



