Selama ini, proyeksi kenaikan permukaan air laut yang digunakan oleh para perencana kota di seluruh dunia didasarkan pada satu asumsi mutlak bahwa daratan tetap diam, sementara volume air laut yang meningkat. Asumsi inilah yang menjadi dasar pembangunan tanggul laut, pemetaan zonasi wilayah, hingga linimasa pembangunan infrastruktur di sepanjang ribuan mil garis pantai.
Data Satelit Membantah Asumsi Lama
Namun, data pengukuran satelit terbaru menunjukkan bahwa asumsi tersebut keliru bagi sebagian besar masyarakat yang terdampak. Di wilayah pesisir berpenduduk padat tempat miliaran orang tinggal dekat dengan air, daratan justru sama sekali tidak diam, melainkan terus ambles atau mengalami penurunan tanah, sebagaimana dilansir dari laman Earth, Rabu (27/5/2026).
Dampak Penurunan Tanah di Pesisir
Fenomena amblesnya daratan ini memperparah ancaman kenaikan air laut global. Banyak kota pesisir besar seperti Jakarta, Bangkok, dan Shanghai mengalami penurunan tanah yang signifikan akibat ekstraksi air tanah berlebihan dan beban bangunan. Hal ini membuat risiko banjir rob semakin tinggi, bahkan tanpa adanya kenaikan air laut sekalipun.
Perlunya Pembaruan Model Perencanaan
Temuan ini menuntut para perencana kota dan pembuat kebijakan untuk memperbarui model perencanaan wilayah pesisir. Tanggul laut yang dibangun berdasarkan asumsi lama mungkin tidak akan efektif jika tanah di sekitarnya terus ambles. Selain itu, pemetaan zonasi risiko banjir perlu mempertimbangkan laju penurunan tanah lokal, bukan hanya proyeksi kenaikan air laut global.
Langkah Mitigasi yang Diperlukan
Para ahli menyarankan langkah-langkah mitigasi seperti pembatasan ekstraksi air tanah, pengelolaan air permukaan yang lebih baik, dan pembangunan infrastruktur yang adaptif terhadap penurunan tanah. Tanpa tindakan nyata, miliaran penduduk pesisir akan menghadapi ancaman banjir yang semakin sering dan parah di masa depan.



