Trump Sebut Lonjakan Harga Minyak Akibat Perang Sebagai 'Harga Kecil' yang Harus Dibayar
Trump: Lonjakan Harga Minyak Akibat Perang Harga Kecil

Trump Anggap Lonjakan Harga Minyak Akibat Perang Sebagai 'Harga Kecil' untuk Dibayar

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah memberikan tanggapan terkait lonjakan harga minyak yang terjadi imbas dari perang yang dikobarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026. Dalam pernyataannya, Trump menilai bahwa kenaikan harga minyak ini hanyalah pergerakan jangka pendek dan merupakan "harga yang sangat kecil untuk dibayar" demi kepentingan yang lebih besar.

Pernyataan Trump via Media Sosial

Seperti dilaporkan oleh Bloomberg dan Al Arabiya pada Senin (9/3/2026), Trump menyatakan bahwa lonjakan harga minyak akan turun dengan cepat "ketika penghancuran ancaman nuklir Iran berakhir". Dalam unggahan di platform Truth Social, ia menulis, "Harga minyak jangka pendek, yang akan turun dengan cepat ketika penghancuran ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar bagi AS, dan Dunia, dan Keamanan dan Perdamaian." Ia bahkan menambahkan, "HANYA ORANG BODOH YANG AKAN BERPIKIR SECARA BERBEDA," untuk menegaskan posisinya.

Dampak Perang di Timur Tengah

Perang di Timur Tengah ini tidak menunjukkan tanda-tanda mereda setelah serangan terkoordinasi AS dan Israel terhadap Iran lebih dari seminggu yang lalu. Konflik telah meluas setelah Teheran menggempur negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, memicu kekhawatiran akan krisis inflasi global. Beberapa faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak meliputi:

  • Penghentian pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur perairan sempit yang biasanya menangani seperlima minyak dunia.
  • Serangan terhadap infrastruktur energi utama di kawasan tersebut.
  • Penurunan produksi dari produsen utama seperti Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Irak akibat penyimpanan yang cepat penuh.

Harga minyak telah melonjak di atas US$ 100 per barel, dengan lebih dari selusin negara terseret ke dalam konflik ini. Namun, Trump justru mengisyaratkan niat untuk semakin memperdalam konflik yang telah mengacaukan pasar energi global.

Eskalasi Konflik dan Respons Iran

Dalam unggahan media sosial pada Sabtu (7/3) pagi, Trump mengatakan bahwa AS akan mempertimbangkan untuk menyerang area-area dan kelompok orang di Iran yang sebelumnya tidak dianggap sebagai target. Pernyataan ini disampaikan setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, bersumpah untuk tidak mundur dalam menghadapi tekanan internasional.

Sementara itu, Iran baru saja mengumumkan Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Garda Revolusi Iran telah berjanji untuk patuh kepada pemimpin tertinggi yang baru, menandakan potensi stabilisasi internal meski konflik eksternal terus berlanjut.

Dengan situasi yang terus berkembang, pasar energi global tetap waspada terhadap dampak lebih lanjut dari perang ini, sementara Trump tetap bersikukuh bahwa harga minyak yang tinggi hanyalah konsekuensi sementara dari upaya menjaga keamanan dan perdamaian dunia.