Badan Geologi Ungkap Sesar Cisadane Aktif, Hanya 20 Kilometer dari Jakarta
Badan Geologi akhirnya buka suara terkait temuan Sesar Cisadane yang telah menjadi perhatian publik. Sesar ini diperkirakan membentang dari wilayah Bogor di Jawa Barat hingga Tangerang di Banten, dengan jarak yang sangat dekat dari ibu kota Jakarta.
Jarak Hanya 20 Kilometer dari Ibu Kota
Menurut analisis terbaru, Sesar Cisadane diidentifikasi sebagai sesar aktif yang berjarak hanya sekitar 20 kilometer dari Jakarta. Jarak ini dapat ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam dengan kendaraan, menandakan potensi risiko seismik yang signifikan bagi wilayah metropolitan yang padat penduduk.
Keberadaan sesar aktif di dekat Jakarta meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan gempa bumi, mengingat sejarah seismik di Indonesia yang sering mengalami aktivitas tektonik. Para ahli menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana untuk mengurangi dampak potensial.
Penelitian Tim Ahli Badan Geologi
Tim peneliti yang dipimpin oleh Sukahar Eka, Penyelidik Bumi Ahli Madya di Badan Geologi, telah melakukan investigasi mendalam terhadap Sesar Cisadane. Mereka berhasil menemukan jejak sesar ini di Gunung Nyungcung, sebuah lokasi yang menjadi kunci dalam pemetaan geologi wilayah tersebut.
Gunung Nyungcung, dengan ketinggian sekitar 240 meter di atas permukaan laut, dulunya merupakan bagian dari Gunung Panjang sebelum terpisah akibat aktivitas geologi. Temuan ini memberikan bukti kuat tentang pergerakan dan sejarah Sesar Cisadane, yang membantu para ilmuwan memahami dinamika bumi di area tersebut.
Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan secara pasti karakteristik sesar, termasuk magnitudo gempa yang mungkin dihasilkan dan frekuensi aktivitasnya. Namun, data awal menunjukkan bahwa Sesar Cisadane merupakan faktor risiko yang perlu diwaspadai oleh pemerintah dan masyarakat setempat.
Badan Geologi menyarankan agar langkah-langkah pencegahan, seperti pemantauan seismik rutin dan edukasi publik tentang keselamatan gempa, segera diimplementasikan. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur jika gempa terjadi di masa depan.