KOMPAS.com - Pertalite merupakan salah satu jenis bahan bakar minyak (BBM) yang paling dikenal oleh masyarakat Indonesia. Nama Pertalite kembali menjadi perbincangan hangat setiap kali muncul isu mengenai pembatasan pembelian BBM bersubsidi atau kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax.
Latar Belakang Kemunculan Pertalite
Pembatasan pembelian Pertalite biasanya dikaitkan dengan upaya pemerintah dan Pertamina agar BBM penugasan tersebut lebih tepat sasaran. Di balik penggunaannya yang luas, Pertalite memiliki sejarah kemunculan yang tidak lepas dari kebutuhan untuk menghadirkan BBM dengan kualitas lebih baik dari Premium, tetapi tetap lebih terjangkau dibanding Pertamax.
Mengapa Pertalite Dibutuhkan?
Sebelum Pertalite hadir, masyarakat hanya mengenal Premium sebagai BBM murah dan Pertamax sebagai BBM berkualitas tinggi. Namun, Premium dinilai kurang ramah lingkungan dan memiliki nilai oktan rendah, sementara Pertamax harganya lebih mahal. Pertalite hadir sebagai solusi di tengah-tengah, dengan nilai oktan 90 yang lebih baik dari Premium (oktan 88) namun lebih murah dari Pertamax (oktan 92).
Peluncuran Pertalite pada tahun 2015 oleh Pertamina disambut baik oleh masyarakat. BBM ini langsung menjadi primadona karena harganya yang terjangkau dan kualitas yang memadai untuk kendaraan modern. Sejak saat itu, Pertalite menjadi BBM penugasan yang diatur pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Hingga kini, Pertalite masih menjadi salah satu BBM paling laris di Indonesia, meskipun seringkali menjadi sorotan terkait kebijakan subsidi dan pembatasan pembelian.



