KOMPAS.com - Guna menciptakan kehidupan yang berkelanjutan di masa depan, sumber energi hijau merupakan inovasi yang dibutuhkan kini. Guru Besar dari Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr.-Ing. Doty Dewi Risanti S.T., M.T., memanfaatkan limbah aluminium menjadi gas hidrogen untuk menghasilkan listrik dengan lebih efektif dan efisien.
Mengurangi Ketergantungan pada Energi Konvensional
Sumber energi konvensional banyak memberikan kerugian ekologis menurutnya. Prof Doty juga mengingatkan bahwa ketergantungan pada bahan baku primer telah menyebabkan deplesi dan menghasilkan limbah industri yang masif sementara proses daur ulang belum maksimal.
Daur Ulang yang Optimal
“Daur ulang yang tidak optimal menyebabkan penurunan kualitas material yang seharusnya dapat dikelola dengan lebih efektif,” jelas Doty saat orasi ilmiah dalam pengukuhannya sebagai profesor, dilansir situs ITS pada Senin (15/6/2026).
Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengurangi limbah aluminium yang selama ini menumpuk dan sulit terurai. Dengan mengubah limbah menjadi hidrogen, kita dapat memperoleh energi bersih yang ramah lingkungan.
Proses konversi limbah aluminium menjadi gas hidrogen dinilai lebih efisien dibandingkan metode konvensional. Selain itu, gas hidrogen yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik tanpa emisi karbon.
Prof. Doty berharap penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut dan diadopsi oleh industri untuk mendukung transisi energi hijau di Indonesia. Dengan demikian, ketergantungan pada energi fosil dapat berkurang dan lingkungan pun terjaga.



