Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS per Barel, Dipicu Konflik AS-Israel-Iran
Harga Minyak Tembus 100 Dolar AS, Dipicu Konflik AS-Israel-Iran

Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS per Barel, Dipicu Konflik AS-Israel-Iran

Harga minyak dunia secara resmi naik melewati level 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Lonjakan ini terjadi di tengah eskalasi konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian di pasar energi global, dengan dampak yang berpotensi luas terhadap perekonomian internasional.

Lonjakan Signifikan pada Minyak Brent

Berdasarkan laporan dari Al Jazeera, minyak mentah Brent mengalami kenaikan lebih dari 20 persen pada hari Minggu, 8 Maret 2026. Bahkan, harga sempat menyentuh level lebih dari 114 dolar AS per barel, menunjukkan volatilitas yang tinggi di pasar. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap gangguan pasokan akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Perkembangan Harga pada Senin Pagi

Pada Senin, 9 Maret 2026, pukul 08.15 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Mei 2026 tercatat naik sebesar 18,35 dolar AS atau 19,8 persen. Dengan kenaikan tersebut, harga mencapai 111,04 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 juga mengalami peningkatan signifikan.

WTI naik sebesar 16,50 dolar AS atau 18,2 persen, sehingga harga menjadi 107,40 dolar AS per barel. Perbedaan harga antara Brent dan WTI ini menunjukkan variasi dalam respons pasar terhadap faktor geopolitik dan permintaan global.

Dampak Konflik Geopolitik

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak ini. Ketegangan ini meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah, yang merupakan produsen utama dunia. Analis pasar memprediksi bahwa harga bisa terus berfluktuasi bergantung pada perkembangan situasi politik dan keamanan di wilayah tersebut.

Lonjakan harga minyak ini berpotensi mempengaruhi berbagai sektor ekonomi, termasuk transportasi, manufaktur, dan harga barang konsumen. Pemerintah dan pelaku bisnis di seluruh dunia perlu memantau situasi ini dengan cermat untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut.