Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Ketegangan AS-Iran Soal Nuklir
Harga minyak dunia menunjukkan penguatan pada perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, di tengah meningkatnya kekhawatiran konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Washington telah memperingatkan bahwa Teheran akan menghadapi konsekuensi serius jika tidak menyepakati kesepakatan terkait aktivitas nuklirnya dalam beberapa hari ke depan.
Data Perdagangan Minyak Mentah
Berdasarkan data yang dilaporkan oleh Reuters, minyak mentah Brent tercatat naik sebesar 21 sen atau setara dengan 0,3 persen. Harga tersebut mencapai level 71,87 dollar AS per barel. Dengan kurs rupiah yang berada di angka Rp 15.800 per dollar AS, nilai ini setara dengan sekitar Rp 1.135.000 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat juga mengalami penguatan. Minyak WTI menguat sebesar 23 sen atau 0,4 persen, mencapai harga 66,66 dollar AS per barel. Dalam rupiah, harga ini setara dengan kira-kira Rp 1.053.000 per barel, berdasarkan kurs yang sama.
Faktor Pendorong Kenaikan Harga
Kenaikan harga minyak ini terutama didorong oleh ketegangan geopolitik yang semakin memanas antara AS dan Iran. Peringatan dari Washington mengenai konsekuensi serius jika Iran tidak menyepakati kesepakatan nuklir dalam waktu dekat telah menciptakan ketidakpastian di pasar energi global.
Ketegangan ini berpotensi mengganggu pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah, yang merupakan produsen utama minyak dunia. Investor dan trader khawatir bahwa eskalasi konflik dapat berdampak pada produksi dan distribusi minyak, sehingga mendorong harga naik sebagai antisipasi.
Selain faktor geopolitik, kondisi pasar minyak juga dipengaruhi oleh permintaan global yang terus pulih pasca-pandemi, meskipun dalam artikel ini fokus utamanya adalah pada isu AS-Iran. Penguatan harga pada Jumat ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan politik internasional.
Para analis memprediksi bahwa harga minyak mungkin akan terus berfluktuasi dalam beberapa hari ke depan, tergantung pada respons Iran terhadap ultimatum AS dan perkembangan lebih lanjut dari negosiasi nuklir. Pemantauan ketat terhadap situasi ini sangat penting bagi pelaku pasar energi.



