KOMPAS.com - Harga minyak mentah kembali melemah pada Kamis (17/6/2026), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pihak Iran menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri perang sekaligus membuka kembali Selat Hormuz. Kesepakatan itu memunculkan optimisme baru terhadap prospek perdamaian kedua negara, setelah konflik lebih dari tiga bulan mengguncang pasar energi dan memicu tekanan inflasi global.
Meski demikian, sentimen positif pasar masih tertahan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) sebelum akhir tahun. Ekspektasi itu muncul setelah kepala baru The Fed, Kevin Warsh, memimpin rapat kebijakan pertamanya dan menyoroti tekanan harga tinggi terhadap masyarakat AS.
Baca juga: Produsen Minyak Rusia Batasi Penjualan Bensin dan Solar, Ada Apa?



