Harga Minyak AS Anjlok Usai Pernyataan Damai Trump Terkait Iran
Harga minyak di Amerika Serikat mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Jumat (27/3/2026). Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan keinginannya untuk mengakhiri perang dan menunda serangan militer terhadap Iran.
Penurunan Terbesar dalam Enam Bulan Terakhir
Penurunan harga minyak yang tercatat pada hari Jumat tersebut bukan hanya sekadar fluktuasi harian biasa. Data pasar menunjukkan bahwa ini merupakan penurunan mingguan terbesar yang terjadi selama enam bulan pemerintahan Trump. Analis pasar energi mencatat bahwa sentimen perdagangan langsung berubah setelah pengumuman dari Gedung Putih.
Priyanka Sachdeva, seorang analis di Phillip Nova, memberikan penjelasan mendetail mengenai dinamika pasar. "Meskipun ada pembicaraan mengenai de-eskalasi dan upaya perdamaian, minyak tetap diperdagangkan berdasarkan durasi dan intensitas perang yang terjadi," ujarnya. Sachdeva menambahkan bahwa kerusakan langsung pada infrastruktur minyak atau konflik yang berkepanjangan dapat memaksa pasar untuk melakukan penyesuaian harga dengan cepat ke level yang lebih tinggi.
Potensi Kenaikan Harga Jika Konflik Berlanjut
Meskipun harga minyak menunjukkan tren penurunan pada hari Jumat, para pakar energi mengingatkan bahwa situasi ini bisa berubah dengan cepat. Mereka memperingatkan adanya potensi kuat harga minyak akan kembali naik jika perang antara AS dan Israel dengan Iran terus berlanjut atau bahkan meningkat eskalasinya.
Faktor-faktor yang dapat memicu kenaikan harga kembali meliputi:
- Gangguan pada pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
- Respons militer dari Iran atau sekutunya terhadap kebijakan AS.
- Ketidakpastian politik dan keamanan di jalur pelayaran strategis.
Pasar energi global tetap dalam kondisi waspada, mengingat sejarah volatilitas harga minyak yang sering dipengaruhi oleh gejolak geopolitik di kawasan penghasil minyak utama dunia.



