Sejarah Angkringan: Siapa Pelopor dan Cikal Bakal Kuliner Kaki Lima Ini
Sejarah Angkringan: Pelopor dan Cikal Bakal

Asal-Usul Angkringan

Angkringan, gerobak dorong yang menjajakan aneka jajanan dan minuman hangat, telah menjadi ikon kuliner kaki lima di Indonesia, khususnya di Jawa. Namun, tahukah Anda siapa sebenarnya pelopor angkringan? Sejarah mencatat bahwa angkringan pertama kali muncul di Yogyakarta pada awal abad ke-20. Konsep ini lahir dari kreativitas para pedagang kecil yang ingin menyajikan makanan dan minuman dengan cara sederhana namun praktis.

Cikal Bakal Angkringan

Cikal bakal angkringan tidak lepas dari pengaruh budaya Tionghoa dan Jawa. Gerobak yang digunakan mirip dengan gerobak dorong yang biasa digunakan oleh pedagang Tionghoa pada masa itu. Nama "angkringan" sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu "angkring" yang berarti duduk dengan posisi kaki menjuntai. Hal ini merujuk pada posisi duduk para pembeli yang biasanya duduk di bangku kecil atau lesehan saat menikmati hidangan.

Perkembangan Angkringan

Pada awalnya, angkringan hanya menjual menu sederhana seperti nasi kucing, sate usus, dan wedang jahe. Namun, seiring waktu, variasi menu semakin beragam, termasuk nasi campur, mi instan, dan berbagai gorengan. Angkringan juga menjadi tempat nongkrong favorit bagi berbagai kalangan, dari mahasiswa hingga pekerja malam.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pelopor Angkringan

Tidak ada satu nama pasti yang dapat disebut sebagai pelopor angkringan. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa angkringan mulai populer di Yogyakarta pada tahun 1930-an. Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan awal mula angkringan adalah Mbah Joyo, seorang pedagang keliling yang memodifikasi gerobak dorongnya menjadi tempat jualan yang nyaman. Meskipun tidak ada bukti tertulis yang kuat, kisah Mbah Joyo menjadi legenda di kalangan pecinta angkringan.

Angkringan di Masa Kini

Saat ini, angkringan telah menyebar ke berbagai kota di Indonesia, bahkan hingga mancanegara. Meskipun modernisasi mulai masuk, seperti penggunaan gerobak yang lebih modern dan penambahan menu kekinian, esensi angkringan sebagai tempat ngopi dan ngobrol santai tetap terjaga. Angkringan juga menjadi simbol keramahan dan kebersamaan dalam budaya Jawa.

Dengan sejarah yang panjang, angkringan tidak hanya sekadar tempat jualan, melainkan juga warisan budaya yang patut dilestarikan. Keberadaannya yang sederhana namun sarat makna menjadikan angkringan sebagai salah satu ikon kuliner yang tak lekang oleh waktu.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga