Artis Frislly Herlind baru-baru ini berbagi kenangan tentang perjalanan wisatanya ke Desa Nagoro, sebuah desa terpencil di Lembah Iya, Prefektur Tokushima, Pulau Shikoku, Jepang. Desa ini dikenal luas karena keunikan yang menyeramkan: jumlah boneka yang menghuni desa tersebut mencapai lebih dari 350 buah, jauh melampaui jumlah penduduk asli yang tersisa sangat sedikit.
Desa Boneka yang Menyeramkan
Nagoro, yang dulunya merupakan desa biasa, kini berubah menjadi destinasi wisata yang misterius. Boneka-boneka tersebut ditempatkan di berbagai sudut desa, mulai dari bangku taman, halte bus, hingga di dalam rumah-rumah kosong. Kehadiran boneka-boneka ini menciptakan suasana yang unik dan sedikit menyeramkan bagi para pengunjung.
Frislly Herlind mengaku terkesan dengan pengalaman tersebut. Ia mengatakan bahwa Desa Nagoro memberikan sensasi tersendiri yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Meskipun terkesan menyeramkan, ia menilai desa ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda.
Sejarah Desa Nagoro
Desa Nagoro mulai dikenal setelah seorang seniman lokal bernama Ayano Tsukimi mulai membuat boneka-boneka untuk mengisi desa yang semakin sepi. Awalnya, ia membuat boneka untuk mengusir burung dari kebunnya, namun kemudian ia terus membuat boneka hingga jumlahnya mencapai ratusan. Kini, boneka-boneka tersebut menjadi ikon desa dan menarik perhatian wisatawan dari berbagai negara.
Meskipun desa ini terlihat seperti dihuni oleh boneka, penduduk asli yang masih tinggal di sana sangat sedikit. Sebagian besar penduduk telah pindah ke kota besar untuk mencari pekerjaan. Boneka-boneka tersebut seolah-olah menjadi penghuni baru yang menggantikan penduduk yang telah pergi.
Bagi wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi Desa Nagoro, mereka harus bersiap dengan medan yang sulit dijangkau. Desa ini terletak di daerah pegunungan yang terpencil, namun akses transportasi umum masih tersedia. Pengalaman unik ini tentu menjadi kenangan tak terlupakan bagi siapa pun yang berkunjung.



