Ahli Ungkap Dampak Mengerikan Jika Semua Serangga Hilang dari Bumi
Dampak Mengerikan Jika Semua Serangga Hilang

KOMPAS.com – Bayangkan dunia tanpa serangga: tidak ada nyamuk penyebab malaria, kutu kasur, atau belalang yang merusak tanaman. Sekilas, ini terdengar seperti dunia yang lebih nyaman. Namun, menurut ahli entomologi di Inggris, Richard Jones, kenyataannya justru sebaliknya. Bumi akan berada di ambang kehancuran ekosistem.

Peran Krusial Serangga dalam Ekosistem

Jones menjelaskan bahwa hilangnya serangga bukan hanya berarti kehilangan kupu-kupu atau capung yang indah. Dampaknya jauh lebih besar karena serangga merupakan komponen utama dalam hampir seluruh rantai makanan di darat dan air tawar. Tanpa serangga, banyak spesies lain akan kelaparan dan punah, termasuk manusia.

Rantai Makanan Terganggu

Serangga menjadi sumber makanan bagi burung, reptil, amfibi, ikan, dan mamalia kecil. Jika serangga hilang, predator tersebut akan kehilangan sumber protein utama. Selain itu, serangga juga berperan sebagai penyerbuk tanaman, pengurai bahan organik, dan pengendali hama alami.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Tanpa penyerbukan oleh serangga, produksi buah, sayur, dan biji-bijian akan menurun drastis. Tanpa pengurai, bangkai dan kotoran akan menumpuk, mengganggu siklus nutrisi. Ekosistem akan kolaps secara bertahap.

Dampak pada Manusia

Manusia juga akan merasakan dampak langsung. Sektor pertanian akan hancur karena tidak ada penyerbukan alami. Harga pangan melonjak, kelaparan meluas. Ekonomi global terguncang. Selain itu, hilangnya serangga juga berarti hilangnya sumber obat-obatan dan bahan penelitian.

Jones menegaskan bahwa meskipun beberapa serangga dianggap hama, keberadaan mereka secara keseluruhan sangat vital. Upaya konservasi serangga harus ditingkatkan untuk mencegah bencana ekologis ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga