Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mempersiapkan pembentukan Jakarta Film Commission sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi Jakarta sebagai kota sinema sekaligus destinasi produksi film. Hal ini diumumkan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, saat menghadiri pemutaran film Ghost in the Cell dalam rangka Bulan Bung Karno di Jakarta Pusat pada Minggu (7/6).
Dukungan untuk Sineas Indonesia
Rano Karno menyatakan bahwa setelah Jakarta Film Commission terbentuk, pemerintah akan memberikan subsidi dan berbagai fasilitas untuk mendukung para sineas Indonesia dalam memproduksi karya-karya baru. "Apabila nanti Jakarta Film Commission sudah terbentuk, kita akan banyak memberikan semacam subsidi atau fasilitas-fasilitas agar sineas Indonesia bisa memproduksi lagi," ujarnya.
Ia juga mengapresiasi capaian film karya sineas Indonesia yang berhasil meraih jutaan penonton dan menembus pasar internasional. Ghost in the Cell, misalnya, telah ditonton lebih dari 3,2 juta orang dalam 32 hari penayangan. "Kemudian, yang luar biasa ini juga mencatat pencapaian internasional dengan hak distribusi telah terjual di 148 negara," tambah Rano.
Pertumbuhan Industri Film di Indonesia
Menurut Rano, prestasi tersebut menjadi fenomena positif bagi industri perfilman nasional. Di saat sejumlah negara mengalami penurunan jumlah penonton bioskop akibat pergeseran ke platform digital, Indonesia justru mencatat pertumbuhan signifikan. "Di Hong Kong, bioskop tinggal 25 gedung bioskop. Jakarta masih dengan 3.500 gedung bioskop, dan pada tahun 2024 jumlah penonton film di Indonesia mencapai 122 juta orang. Ini menjadi anomali. Tiba-tiba banyak sekali investor, produser, dan sineas dunia yang datang ke Indonesia, terutama ke Jakarta, untuk membuat sesuatu," jelasnya.
Seni dan Budaya sebagai Instrumen Pembangunan Karakter
Dalam momentum Bulan Bung Karno, Rano juga menekankan pentingnya seni dan budaya sebagai instrumen pembangunan karakter bangsa. Ia mengingatkan bahwa Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, memiliki perhatian besar terhadap dunia seni dan kebudayaan. "Bung Karno memandang seni dan film bukan sekadar hiburan. Seni harus mampu mencerminkan realitas masyarakat dan membangkitkan kesadaran sosial. Karena itu, ada hubungan yang sangat kuat antara film dan kebudayaan," pungkasnya.



