Slamet, Muslim Penjaga Kelenteng di Tengah Laut Kalbar Selama 30 Tahun
Di tengah hamparan laut lepas Desa Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, berdiri sebuah kelenteng unik bernama Xiao Yi Shen Tang atau Xuan Wu Zhen Tan. Bangunan ini seolah mengapung di atas air, terpisah sekitar lima kilometer dari daratan dan hanya dapat diakses dengan perahu klotok atau kapal wisata. Yang lebih menakjubkan, kelenteng yang dibangun pada tahun 1969 secara gotong royong oleh umat Tionghoa ini dijaga oleh seorang muslim bernama Slamet, yang telah setia melaksanakan tugasnya selama hampir 30 tahun.
Perjalanan Setia Slamet ke Kelenteng Timbul
Slamet, yang kini berusia 74 tahun, setiap hari berangkat dari rumahnya di kawasan pabrik di tepi pantai menggunakan perahu. Ia tiba di kelenteng sekitar pukul 07.00 WIB dan pulang pada pukul 17.00 WIB, dengan hari Minggu sering kali membuatnya pulang lebih malam. Awalnya, ia menjaga kelenteng ini dengan bayaran Rp 400 ribu, namun berhenti karena merasa tidak cukup. Tak lama kemudian, Slamet diminta kembali untuk menjaga tanpa bayaran tetap, dan ia justru merasa lebih nyaman dengan kondisi tersebut.
"Kalau tidak digaji itu bebas, bisa ke mana-mana. Kalau digaji kan terikat," ujar Slamet, seperti dilansir dari sumber terpercaya. Meski tidak menerima upah tetap, ia kerap mendapat uang dari pengunjung yang datang beribadah atau sekadar berwisata di kelenteng berukuran sekitar 20 x 20 meter yang menghadap ke timur ini. Dengan kondisi kaki yang tidak bisa berjalan sempurna, Slamet tetap teguh menjalani aktivitasnya di tengah laut.
Pengalaman dan Toleransi dalam Tiga Dekade
Selama hampir tiga dekade, Slamet telah bertemu banyak orang dari berbagai daerah dan negara, termasuk pengunjung dari Jakarta bahkan wisatawan asal Belanda yang datang bersama istrinya yang orang Indonesia. Menjelang perayaan Imlek, jumlah pengunjung biasanya meningkat drastis, menunjukkan betapa kelenteng ini menjadi destinasi spiritual dan wisata yang penting.
Soal perbedaan keyakinan, Slamet tak pernah mempermasalahkannya. Ia berpendapat bahwa selama pekerjaan tidak melanggar aturan dan norma, semuanya baik-baik saja. "Semuanya sama saja menurut saya, tidak masalah," ucapnya dengan sederhana, mencerminkan sikap toleransi yang dalam. Kisahnya menjadi contoh nyata harmoni antarumat beragama di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat.
Kelenteng yang dijaga Slamet ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol persatuan dan kekayaan budaya lokal. Keberadaannya di tengah laut menambah keunikan dan daya tarik bagi para wisatawan yang mencari ketenangan atau pengalaman spiritual yang berbeda.