Menteri Kebudayaan RI sekaligus Ketua Umum Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) Fadli Zon secara resmi membuka rangkaian Peringatan Hari Keris Nasional 2026 yang mengusung tema 'Warisan Pusaka Lintas Generasi'. Acara pembukaan berlangsung di Museum Pusaka, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Rangkaian Acara dan Tujuan
Kegiatan yang digelar mulai 23 Mei hingga 28 Juni 2026 ini diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan bersama SNKI. Peringatan Hari Keris Nasional menjadi bagian dari upaya memperkuat pelestarian budaya perkerisan sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga warisan budaya bangsa.
Pernyataan Fadli Zon
Dalam sambutannya, Fadli menegaskan bahwa keris bukan sekadar benda pusaka, melainkan bagian penting dari identitas budaya Indonesia yang lahir dari perjalanan panjang peradaban Nusantara. "Keris ini asli dari Indonesia, bukan dari negara lain. Bukti-buktinya dapat ditemukan di relief-relief candi kita," ujar Fadli dalam keterangan tertulis, Minggu (24/5/2026). "Keris menjadi salah satu warisan budaya yang menunjukkan kekuatan peradaban dan identitas bangsa Indonesia," sambungnya.
Fadli juga menekankan pentingnya penguatan literasi budaya perkerisan melalui buku, pameran, podcast, hingga berbagai kegiatan budaya lainnya. Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat memahami keris tidak hanya dari sisi bentuk dan estetikanya, tetapi juga nilai sejarah, filosofi, dan spiritualitas yang terkandung di dalamnya.
Pengembangan Keris Kontemporer dan Ekonomi Budaya
Pemerintah terus mendorong perkembangan keris kontemporer karya para empu masa kini sebagai bagian dari perkembangan seni dan budaya Indonesia. Menurut Fadli, budaya perkerisan juga memiliki potensi untuk berkembang sebagai bagian dari ekonomi budaya yang memberi manfaat bagi masyarakat. "Keterlibatan generasi muda menjadi penting agar budaya perkerisan terus hidup dan berkembang di masa depan," kata Fadli.
Lebih lanjut, Fadli menyampaikan bahwa pemerintah terus berkomitmen dalam memperkuat ekosistem budaya perkerisan melalui berbagai upaya, seperti penguatan literasi, sertifikasi profesi, regenerasi kolektor, hingga pengembangan berbagai kegiatan budaya lintas generasi. Keris sendiri telah diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak 2005.
Penghargaan SNKI 2026
Pada malam pembukaan, Fadli menyerahkan sejumlah Anugerah SNKI 2026 kepada tokoh dan pegiat budaya perkerisan dalam beberapa kategori. Anugerah Nunggak Semi diberikan kepada almarhum Waluyo Wijayanto, sedangkan Anugerah Naga Sasra diberikan kepada Ismail Thomas dan Syagaf Muzakir. Anugerah Kalamunyeng diberikan kepada Toni Junus dan Jimmy S Harianto, sementara Anugerah Nagaraja diberikan kepada Agustinus Santosa Adiwibowo.
Selain itu, Anugerah SNKI diberikan kepada GBPH H Prabukusumo, KRHT Sukoyo Hadinagiro, dan A. A. Bagus Ngurah Agung. Anugerah Kebudayaan Kamarogan diberikan kepada Wibowo Basuki Tjokronegoro, Erman Suparno, almarhum Haryono Haryoguritno, Pande Wayan Sutejdja Neka, Andi Thaswin Abdullah, dan Basuki Teguh Yuwono. Adapun Anugerah Penggerak SNKI diberikan kepada Rinto Murdomo, Andi Promal Pawi, Pramono Pinunggul, Agung Guntoro Wisnu, Yuwono Heru Suparto, Rony Wardhana, Wisnu Kusumawardana, Helmi, Zaenal Arif, Budiharjo, dan Wisnu Wijaya.
Bantuan Paron dan Peresmian Pameran
Pada kesempatan tersebut, Fadli juga menyerahkan bantuan paron kepada lima paguyuban terpilih, yaitu Paguyuban Besalen Galang Wesi, Paguyuban Pati Nambi Lumajang, Komunitas Suara Mandiri Garut Jawa Barat, Keris Pemuda Indonesia, dan SNKI NTB sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan tradisi perkerisan di berbagai daerah.
Fadli turut meresmikan Pameran Keris Nasional sebagai bagian dari rangkaian Hari Keris Nasional 2026. Peresmian tersebut tidak hanya menjadi pembukaan sebuah pameran, tetapi juga membuka ruang untuk menghadirkan kembali warisan, pengetahuan, dan peradaban agung Nusantara yang hidup dalam tradisi perkerisan Indonesia.
Kegiatan Selanjutnya
Rangkaian Peringatan Hari Keris Nasional 2026 akan diisi dengan berbagai kegiatan, di antaranya Musyawarah Kerja Nasional SNKI hingga Bursa Keris yang melibatkan berbagai komunitas perkerisan, kolektor, akademisi, pelestari budaya, dan masyarakat umum dari berbagai daerah di Indonesia.
Menutup sambutannya, Fadli menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan warisan budaya perkerisan sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia sekaligus mendorong generasi muda untuk terus terlibat dalam pelestarian budaya keris di masa depan. "Mari kita terus merawat nilai-nilai mulia dan adiluhung budaya kita yang menguatkan identitas bangsa. Ke depan, keris tidak hanya menjadi warisan bangsa yang bernilai, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari ekonomi budaya dan industri budaya yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas," kata Fadli.
Pernyataan Sekjen SNKI
Sekretaris Jenderal SNKI Basuki Teguh Yuwono mengatakan komunitas perkerisan di Indonesia terus berkembang secara signifikan. Menurut Basuki, SNKI bersama Kemenbud terus mendorong pembinaan paguyuban, penguatan literasi budaya, sertifikasi profesi, serta pengembangan ruang kreatif bagi generasi muda. "Kami ingin menghadirkan budaya perkerisan dengan wajah baru, termasuk melalui pemanfaatan teknologi dan ruang kreatif bagi generasi muda agar budaya keris tetap hidup dan relevan mengikuti perkembangan zaman," ujar Basuki.
Kehadiran Tamu Undangan
Acara ini turut dihadiri oleh Direktur Human Capital dan Digital InJourney Herdy Rosadi Harman; Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko InJourney Destination Management Joel Siahaan; Komisaris Utama InJourney Muhammad Tri Andika; Pelaksana Tugas Direktur TMII Ratri Paramita; jajaran Komisaris TMII; jajaran pengurus SNKI, para sesepuh, empu, mranggi, kolektor, perwakilan paguyuban perkerisan Nusantara, serta seluruh pecinta Tosan Aji. Hadir mendampingi Fadli, di antaranya Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra; Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan; serta Inspektur Jenderal Fryda Lucyana beserta jajaran eselon II dan III Kemenbud.



