Kisah Kartini Modern: Perempuan Indonesia Jadi Sopir Bus di Australia
Kisah Kartini Modern: Sopir Bus Perempuan Indonesia di Australia

Maryanti Puji Astuti merasakan kepuasan tersendiri setiap kali mendengar ungkapan terima kasih dari penumpangnya. Perempuan yang akrab disapa Yanti itu bekerja sebagai sopir bus di Melbourne, Australia, sejak tahun 2021.

Inspirasi dari Sesama Perempuan

Keinginan perempuan asal Depok tersebut untuk suatu hari mengemudikan bus muncul sejak ia baru pindah ke Melbourne pada tahun 2018. "Awalnya saya pertama datang ke Melbourne, saya lihat ada perempuan mengemudi bus," katanya. "Sejak saat itu saya berpikir mungkin saya bisa coba untuk mengemudi bus."

Profesi ini berbeda dengan pekerjaannya ketika masih di Indonesia, yaitu sebagai manajer agensi asuransi di bank. Di Australia, Yanti pernah membantu mengembangkan bisnis kebab di Brisbane dan menjadi cleaner di Melbourne.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Perjuangan Mendapatkan Lisensi

Pada tahun 2020, Yanti mengambil kursus untuk memperoleh surat izin mengemudi khusus bernama Medium Rigid (MR) Licence. Ia memberanikan diri melamar di perusahaan Ventura Bus pada bulan April 2021. "Saya melamar di Dandenong, hari itu juga saya wawancara, menunggu satu minggu ujian mengemudi, dan setelah medical check-up, dua minggu saya diterima," katanya.

Tantangan Awal yang Berat

Yanti menghadapi kesulitan ketika baru mulai mengemudi bus. "Awalnya sih sempat bilang susah mau menyerah, cuma saya pikir, 'kenapa enggak dicoba dulu?'" katanya. "Karena bus enggak seperti mobil. Kalau mobil kan belok, belok saja. Kalau bus butuh ruang, butuh perhitungan, butuh kalkulasi yang tepat."

Pengalaman serupa dialami Indah Adjam, perempuan Indonesia di Melbourne lainnya yang juga bekerja sebagai sopir bus. Berbeda dengan Yanti, Indah mengemudi SkyBus, dengan rute bandara Melbourne ke beberapa titik di kota tersebut. "Seminggu, dua minggu training ya banyak menangis," katanya. "Karena susah ya, enggak biasa, karena Skybus adalah kendaraan yang sangat besar."

Menikmati Profesi

Tapi sekarang Indah sudah bisa menikmati profesinya. "Selama ini sih menikmati ya, karena buat saya sih mudah, seperti mengemudi mobil sendiri tapi versi lebih besar," katanya. "Kita ketemu penumpang, kadang membantu mereka mengangkat bagasi dan sebagainya."

Tantangan di Jalan Raya

Yanti mengatakan profesinya sangat menantang, terutama karena harus berbagi jalan dengan mobil lainnya. "Tantangannya itu ya harus hati-hati sih dengan mobil-mobil yang lainnya di jalan," ujarnya. "Kadang juga dengan orang-orang yang menyeberang tanpa lihat kiri dan kanan."

Ia pun harus berhadapan dengan penumpang dan keinginan mereka masing-masing. "Namanya mengemudi ya, kadang-kadang ada penumpang yang baik, ada yang kurang baik," katanya. "Misalnya ya kadang dia mau turun di semaunya dia saja, bilang kiri, minta stop. Ya saya cuma bilang 'I'm sorry', saya tidak dapat menurunkan di sembarang jalan, hanya di bus stop."

Menghadapi Penumpang Mabuk

Yanti juga mengatakan pernah berhadapan dengan penumpang yang mabuk atau membuat onar. "Kalau misalkan ada penumpang yang seperti itu, paling saya telepon OCC, operator centre yang mengawasi operasional bus," ujarnya. OCC inilah nantinya yang membantunya memetakan situasi, termasuk menghubungi polisi jika diperlukan.

Yanti juga mengaku harus cermat menghitung durasi perjalanan dan waktu berhenti di tiap titik untuk memastikan busnya tiba tepat waktu di setiap halte.

Dukungan dan Pesan untuk Perempuan

Indah mengatakan bersyukur karena mendapatkan dukungan dari para atasan dan rekan kerjanya. Ia mendorong peminat profesi ini untuk percaya diri bila ingin mencoba. "Pokoknya kalau mau join this industry kayak driver bus atau tram, train, bus apapun yang challenging just be yourself, be confident," katanya.

Dalam memperingati Hari Kartini, Yanti mengajak perempuan Indonesia atau di mana pun untuk tidak takut mengejar mimpi. "Jangan pernah malu untuk bekerja apa pun, selagi itu bisa menghasilkan," katanya. "Capailah mimpi-mimpimu, apa pun itu."

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga