Makkah – Perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran telah memicu peringatan perjalanan ke negara-negara di kawasan Timur Tengah dari pemerintah AS. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat jemaah haji asal negara-negara Barat untuk menuju Makkah, Arab Saudi.
Dilansir AFP, Minggu (24/5/2026), salah satu warga AS, Fadel, mengatakan dirinya tidak pernah ragu untuk menjalankan ibadah haji tahun ini di Arab Saudi. Dia mengatakan perang tidak membuatnya mundur.
“Bahkan jika perang masih berlangsung, saya tidak akan mundur,” kata Fadel. Dia mengatakan Makkah merupakan tempat teraman di dunia. Dia menyampaikan hal itu merujuk pada ayat Al-Qur’an.
“Kita tidak diragukan lagi berada di tempat teraman di dunia,” ujarnya.
Ibadah haji tahun ini tetap diikuti jemaah muslim dari seluruh dunia meski perang yang dipicu AS-Israel telah membuat Iran meluncurkan serangan balasan ke fasilitas AS di Arab Saudi dan negara-negara tetangganya. Kini, perang mulai mereda meski gencatan senjata pada kondisi kritis.
AS dan Iran juga mengindikasikan kesepakatan dapat segera tercapai. Tetapi, kekhawatiran tetap ada bahwa pertempuran dapat kembali terjadi kapan saja.
Kedutaan besar AS di Riyadh juga telah menyarankan warga AS untuk tidak berpartisipasi dalam ibadah haji tahun ini karena alasan keamanan. Perang juga bisa memicu jemaah haji terdampar di Saudi karena penutupan penerbangan.
Namun, hal itu tidak menjadi alasan bagi umat muslim negara-negara Barat untuk memenuhi rukun Islam. Warga Australia, Sayed (47), mengatakan tidak ada keraguan untuk datang ke Makkah bahkan ketika pemerintahnya sendiri mengeluarkan imbauan yang mendesak warga mempertimbangkan kembali perjalanan ke Saudi.
“Ketika Anda berniat untuk datang, Anda datang dengan alasan dan tujuan. Dan itulah mengapa Anda di sini dan menaruh kepercayaan Anda kepada Tuhan bahwa semuanya akan baik-baik saja,” katanya kepada AFP di luar Masjidil Haram Makkah.
Saat ini, lebih dari satu juta jamaah telah membanjiri kota suci menjelang puncak haji yang dimulai dengan wukuf di Arafah pada Selasa (26/5). Suasana Makkah juga menunjukkan beragamnya komunitas Islam global dengan banyak yang membawa perlengkapan seperti tas dan payung yang menunjukkan negara asal mereka.
“Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup dan saya memutuskan untuk tidak melewatkannya meskipun situasi di Teluk sedang tidak menentu,” kata warga negara Jerman, Ibrahim Diab (63).
Jemaah asal Inggris, Imad Ahmad (36), mengaku cemas dengan kondisi perang. Namun, tidak ada keraguan untuk menjalankan ibadah haji meski penerbangannya sempat terhenti di Yordania.
“Saya sangat cemas tentang hal itu. Saya akan datang, dengan cara apa pun yang saya bisa, insyaallah,” ujar Imad Ahmad.



