Hardiknas dan Gagasan Pendidikan Kerakyatan Ki Hadjar Dewantara
Hardiknas dan Gagasan Pendidikan Kerakyatan Ki Hadjar Dewantara

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional. Peringatan ini tidak hanya sekadar seremoni, tetapi juga momentum untuk merefleksikan gagasan pendidikan kerakyatan yang beliau perjuangkan.

Siapa Ki Hadjar Dewantara?

Ki Hadjar Dewantara memiliki nama asli RM Soewardi Soerjaningrat. Lahir dari keluarga bangsawan Jawa, ia mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar untuk anak-anak Eropa. Ia juga sempat melanjutkan ke STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen) atau Sekolah Dokter Jawa, namun tidak menyelesaikannya karena kondisi kesehatan.

Sebelum terjun ke dunia pendidikan, Soewardi aktif sebagai jurnalis di berbagai surat kabar seperti Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Melalui tulisannya, ia menyuarakan kritik sosial-politik terhadap penjajah dengan gaya bahasa yang komunikatif, halus, namun tajam.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pendirian Taman Siswa

Jiwa pendidiknya terwujud ketika ia mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922. Lembaga pendidikan ini didedikasikan untuk mendidik masyarakat pribumi tanpa diskriminasi. Meskipun berasal dari keluarga bangsawan, Ki Hadjar Dewantara hidup sederhana dan dekat dengan rakyat. Ia meyakini bahwa pendidikan dan budaya lokal, khususnya Jawa, menjadi kunci untuk mencapai kesetaraan sosial-politik di tengah masyarakat kolonial.

Gagasan pendidikan kerakyatan yang diusungnya berlandaskan nasionalisme kultural dan politik. Ia dengan gigih menentang Undang-Undang Sekolah Liar (Wilde Scholen Ordonnantie) tahun 1932, yang membatasi gerakan nasionalisme pendidikan. Perlawanannya berhasil, undang-undang tersebut akhirnya dihapus oleh pemerintah kolonial.

Penghormatan dan Warisan

Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia mengangkat Ki Hadjar Dewantara sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1950. Ia juga ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1959. Beliau wafat pada 26 April 1959 dan dimakamkan di pemakaman keluarga Taman Siswa Wijaya Brata, Yogyakarta.

Presiden Soekarno secara resmi menetapkan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Tanggal tersebut bertepatan dengan hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1889. Meskipun bukan hari libur, Soekarno menganjurkan agar seluruh bangsa Indonesia memperingatinya dengan upacara di kantor, sekolah, dan tempat masing-masing sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah pendidikan nasional.

Makna Hardiknas bagi Pendidikan Indonesia

Hardiknas bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan pengingat akan pentingnya pendidikan yang merata dan berkeadilan. Gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan kerakyatan masih relevan hingga kini, terutama dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberantas kebodohan. Melalui semangat Hardiknas, diharapkan seluruh elemen masyarakat terus berkomitmen memajukan pendidikan di Indonesia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga