Boneka Unta untuk Cucu dan Salam Terakhir di Nabawi. Ini adalah kisah tentang mereka yang pulang dari Tanah Suci dan kembali ke pelukan keluarga yang menanti di rumah.
Pemulangan Jemaah Haji Gelombang Kedua dari Madinah
Pemulangan jemaah haji gelombang kedua dari Madinah pada 15 Juni 2026 berlangsung penuh haru. Koper-koper telah dikirim, bus-bus sudah menunggu di depan hotel. Langkah kaki para jemaah mulai meninggalkan penginapan di Madinah, membawa serta sejuta kenangan dan kerinduan. Tidak semua yang mereka bawa pulang berupa barang atau oleh-oleh. Sebagian jemaah justru membawa hal yang paling berharga: kenangan, doa, dan cerita dari Tanah Suci yang akan dibagikan kepada keluarga di kampung halaman.
Kisah Sarida: Boneka Unta untuk Cucu
Sarida, 60 tahun, asal Indramayu, mencuri perhatian saat bersiap pulang. Ia membawa tiga boneka unta berukuran jumbo. Boneka-boneka itu diikat dan dikalungkan sebagai oleh-oleh untuk cucu-cucunya di rumah. Boneka tersebut menjadi salah satu barang yang ia bawa sebagai tanda kenangan dari perjalanan panjang ibadah haji. Sarida adalah salah satu dari banyak jemaah yang membawa pulang cerita unik dari Tanah Suci.
Ahmad Faisal: Salam Terakhir di Masjid Nabawi
Ahmad Faisal (49), jemaah asal Indramayu dari Kloter KJT 21, memilih menikmati waktu terakhirnya di Madinah dengan memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi. Baginya, meninggalkan Madinah bukan perkara mudah. Tempat yang selama beberapa hari menjadi lokasi ibadah dan perenungan itu harus ia tinggalkan untuk kembali ke kehidupan sehari-hari. “Hari ini menjalankan salat dan beribadah kali terakhir di sini. Sedih rasanya cepat beribadah di Masjid Nabawi,” kata Ahmad pada tim Media Center Haji, Senin, 15 Juni 2026. Meski berat meninggalkan Kota Nabi, Ahmad mengaku tidak sabar bertemu keluarga yang telah menunggu di Tanah Air. “Sudah kangen dengan keluarga dan saudara di rumah,” katanya.
Doa untuk Kembali ke Tanah Suci
Sebelum meninggalkan Madinah, Ahmad juga bersyukur mendapat kesempatan berpamitan di Makam Baqi bersama rombongan. Ia berharap perjalanan ibadahnya menjadi bekal untuk kehidupan setelah kembali ke Indonesia. “Semoga kami bersama keluarga bisa segera dipanggil kembali menjadi tamu Allah di Tanah Suci,” tuturnya. Ahmad mengaku pengalaman berhaji selama sekitar 40 hari semakin lengkap berkat dukungan pelayanan petugas yang menurutnya membantu jemaah menjalankan ibadah dengan nyaman. “Makanannya enak, rasanya seperti di Indonesia. Petugas juga responsif membantu jemaah, misalnya ketika kami jalan ke hotel, petugas sigap membantu,” katanya.
Jalal dan Ishak: Pelayanan Petugas yang Membantu
Jalal, jemaah Kloter KJT 21, juga membawa cerita tentang pelayanan yang membuatnya merasa lebih tenang selama berada di Tanah Suci. Awalnya ia menyimpan kekhawatiran karena harus menjalani ibadah jauh dari rumah. Namun, pengalaman yang ia rasakan berbeda dari bayangannya. “Awalnya saya khawatir makanan di sini tidak cocok di lidah, ternyata rasanya sama seperti di rumah,” ujar Jalal. Ia juga mengingat pengalaman ketika mendapatkan bantuan petugas saat kehilangan sandal setelah salat. “Sepulang salat zuhur saya bertemu petugas dan langsung diberi sandal jepit. Saya sangat berterima kasih karena lantai di sini sangat panas,” katanya. Bagi Ishak, jemaah yang sudah dua kali menunaikan ibadah haji, pelayanan tahun ini menunjukkan perubahan dibandingkan pengalaman sebelumnya pada 2012. Ia menilai keberadaan petugas di berbagai titik membuat jemaah lebih mudah menjalankan aktivitas, terutama bagi lansia. “Dulu pelayanan tidak seperti ini. Sekarang petugas ada di mana-mana untuk mengarahkan kita, bahkan mau naik bus saja koper dibawakan, dan jemaah lansia banyak yang digendong,” ujar Ishak.
Kenangan yang Dibawa Pulang
Kini, para jemaah membawa pulang lebih dari sekadar barang bawaan. Mereka membawa cerita tentang ibadah, keramahan petugas, serta kerinduan yang tertinggal di Madinah. Setiap langkah meninggalkan Kota Nabi adalah langkah menuju rumah, namun hati mereka tetap terikat pada Tanah Suci. Doa dan harapan untuk kembali menjadi tamu Allah selalu menyertai perjalanan pulang mereka.



