Istilah 'debat kusir' sering digunakan untuk menggambarkan perdebatan yang tidak berujung. Ternyata, istilah ini memiliki asal-usul yang unik, yaitu dari kentut kuda. Kisahnya bermula dari seorang tokoh ulama-diplomat, KH Agus Salim.
Asal Mula Istilah Debat Kusir
Menurut buku Logika Kemulian Hidup karya Agus Salim MA dan kawan-kawan, istilah ini muncul dari sebuah anekdot yang diceritakan Agus Salim dalam suatu forum. Suatu hari, Haji Agus Salim naik delman yang dikemudikan oleh seorang kusir. Tiba-tiba, kuda tersebut buang angin atau kentut.
Agus Salim pun berkomentar, "Kasihan ya, kudanya masuk angin." Namun, sang kusir membantah. Ia bersikeras bahwa kudanya bukan masuk angin, melainkan keluar angin. "Tidak, kuda aku keluar angin," ujar sang kusir.
Agus Salim kemudian berkata lagi, "Iya, itu artinya masuk angin." Namun, kusir itu tetap pada pendiriannya, "Tidak, itu artinya keluar angin." Perdebatan ini terus berlangsung hingga mereka sampai di tujuan. Mereka bertengkar soal apakah kentut kuda itu masuk angin atau keluar angin.
Pencetusan Istilah Debat Kusir
Dari kejadian tersebut, Agus Salim kemudian mencetuskan istilah 'debat kusir'. Ia sering menggunakan istilah ini dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam momen penting penentuan nasib Republik Indonesia. Dalam forum tersebut, Agus Salim mengingatkan para peserta agar tidak melakukan debat kusir.
Para peserta pun bertanya-tanya tentang maksud istilah itu. Agus Salim lalu menceritakan anekdot soal kuda yang kentut tadi. Sejak saat itu, istilah debat kusir mulai populer dan terus digunakan hingga sekarang.
Istilah ini menjadi pengingat akan perdebatan yang tidak produktif dan hanya membuang-buang waktu. Kisah di baliknya juga menunjukkan bagaimana sebuah peristiwa sederhana bisa melahirkan istilah yang bertahan lama dalam bahasa Indonesia.



