Wamensos Dorong Warga Borobudur Mandiri Lewat Anyaman Eceng Gondok
Wamensos Dorong Warga Borobudur Mandiri Lewat Anyaman

Wamensos Dorong Warga Borobudur Mandiri Lewat Anyaman Eceng Gondok

Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono secara aktif mendorong masyarakat di kawasan Borobudur, Jawa Tengah, untuk mengikuti pelatihan kerajinan anyaman berbahan eceng gondok dengan penuh keseriusan. Program ini diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru dan meningkatkan penghasilan warga secara berkelanjutan.

Kolaborasi untuk Kemandirian Ekonomi

Program pemberdayaan kelompok rentan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Kementerian Sosial, Pemerintah Kabupaten Magelang, dan PT Out of Asia. Tujuannya adalah mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa melalui pengembangan keterampilan produktif.

"Dengan kita latihan ini, kita ingin berhijrah. Berhijrah dari kemarin-kemarin yang belum punya pendapatan, mudah-mudahan nanti dengan kita membikin anyaman yang kemudian menjadi tempat sampah, kemudian menjadi tali dan lain-lain, itu akan menjadikan kita punya penghasilan," tegas Agus Jabo dalam keterangan tertulisnya.

Pernyataan tersebut disampaikan saat ia meninjau langsung pelatihan di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Bumiharjo, Magelang. Ia menegaskan bahwa Presiden Prabowo menginginkan seluruh masyarakat Indonesia berdaya dan mandiri, dengan pelatihan kerajinan ini sebagai salah satu upaya konkret mewujudkannya.

Visi Kemandirian dan Kesejahteraan

Agus Jabo menjelaskan konsep kemandirian dengan bahasa yang mudah dipahami: "Apa mandiri itu? Seluruh rakyatnya bisa punya penghasilan sendiri, punya pendapatan sendiri. Supaya apa? Supaya iso (bisa) tersenyum, iso gemuyu (bisa tertawa), iso seneng uripe (bisa senang hidupnya), rumah tanggane rukun, anake iso sekolah (anaknya bisa sekolah), yen wis wafat munggah suwargo (yang sudah wafat naik ke surga)."

Pada tahap awal, pelatihan ini melibatkan warga dari berbagai desa di tiga kecamatan, yaitu Kajoran, Salaman, dan Borobudur. Wamensos mendorong para peserta untuk mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh agar keterampilan yang diperoleh dapat dimanfaatkan secara optimal.

"Jadi Pak Presiden tidak ingin rakyatnya susah. Pak Presiden ingin rakyatnya bisa gemuyu, Pak Presiden ingin supaya rakyatnya bisa hidup makmur, hidup sejahtera, bahagia lahir dan batin. Saya mohon panjenengan (bapak-ibu) serius," ungkapnya dengan penuh harap.

Kunjungan ke Rumah Produksi Sablon

Usai meninjau pelatihan kerajinan anyaman eceng gondok, Agus Jabo juga mengunjungi rumah produksi sablon milik kelompok masyarakat (pokmas) 'Karyaku' di Desa Karanganyar, Borobudur. Usaha tersebut telah menerima bantuan dua unit mesin sablon dari Kementerian Sosial untuk mendukung pengembangan usaha warga.

Salah satu produk yang dihasilkan adalah kaos oblong. Dalam kunjungannya, Agus Jabo menerima dua kaos sebagai cinderamata, masing-masing berwarna putih bergambar karikatur wajahnya dan kaos hitam dengan ilustrasi wajah Pangeran Diponegoro.

"Ini contohnya, hasil karya dari masyarakat Borobudur. Kita berharap ini sebagai embrio, sebagai langkah awal mudah-mudahan dengan dua mesin ini nanti kita bisa berkembang menjadi besar," ujarnya dengan optimis.

Dukungan dari Pihak Terkait

Camat Borobudur, Subiyanto, menyambut baik pelatihan tersebut. Ia berharap program pemberdayaan ini dapat menjadi upaya efektif untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Borobudur.

"Semoga ini menjadi langkah taktis dan strategis dalam mengentaskan kemiskinan warga kami. Besar harapan kami, pelatihan ini menjadi pemantik, menggeliat dan berkembangnya pemberdayaan masyarakat, pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah kami," kata Subiyanto.

Di sisi lain, Direktur Operasional PT Out of Asia, Arung Lusika, mengungkapkan bahwa permintaan produk anyaman berbahan eceng gondok tergolong tinggi. Bahkan, produk tersebut telah dipasarkan hingga ke pasar internasional, menunjukkan peluang ekonomi yang menjanjikan bagi para perajin lokal.

"Monggo, diseriusi. Kalau diperlukan, saya akan support wilayah Borobudur. Resourcenya sudah ada, kemampuannya sudah ada, tinggal kita berpikir bagaimana melahirkan produk yang bisa diserap di pasar ekspor internasional," ujar Arung dengan semangat.

Ekspansi Program ke Wilayah Lain

Arung menambahkan bahwa pelatihan serupa sebelumnya telah dilaksanakan di Kalisalak, Kebasen, Banyumas, dan Wonosari. Program ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperluas pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan kerajinan berbahan eceng gondok.

"Dan kita masuk ke Borobudur, kalau melihat situasinya ini, semangatnya melebihi dari pelatihan-pelatihan sebelumnya," ungkapnya, menandakan potensi besar yang dimiliki masyarakat Borobudur dalam mengembangkan usaha kerajinan ini.

Dengan komitmen dari berbagai pihak, program pemberdayaan melalui anyaman eceng gondok diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan warga, tetapi juga membuka akses pasar yang lebih luas, baik domestik maupun internasional, untuk produk-produk kreatif masyarakat Borobudur.