Sebuah rumah bergaya arsitektur Indische berdiri kokoh di tengah hiruk-pikuk pusat Kota Yogyakarta, tepatnya di Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman. Rumah ini merupakan peninggalan Pahlawan Nasional, Prof dr M Sardjito, seorang dokter yang pernah memimpin Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Islam Indonesia (UII).
Sejarah dan Kondisi Rumah
Di balik dinding tebal dan jendela kayu berdaun lebar, rumah ini menyimpan jejak perjalanan intelektual serta sejarah panjang dunia pendidikan dan kesehatan di Yogyakarta. Halaman yang rindang dan langit-langit tinggi khas bangunan kolonial membuat rumah ini menjadi oase di tengah modernisasi. Kini, rumah tersebut dihuni oleh Budhi Santoso, kerabat Prof Sardjito.
"Rumah ini peninggalan Pak Sardjito, ya dan sekarang dijual," kata Budhi. Rumah seluas sekitar 800 meter persegi ini berdiri di atas tanah seluas 1.206 meter persegi. Budhi mulai menempati rumah tersebut sejak 1980, sekitar satu dasawarsa setelah Sardjito wafat.
Koleksi Bersejarah di Dalam Rumah
Di sudut-sudut rumah, waktu seolah berhenti. Lemari kaca menyimpan koleksi keris, sementara rak-rak tua dipenuhi buku tentang teknologi farmasi, farmasetika, biografi tokoh nasional, hingga Indian Philosophy Volume 2 karya Sarvepalli Radhakrishnan. Semua koleksi itu hampir tidak pernah disentuh Budhi, kecuali dibersihkan dari debu. Foto-foto keluarga, furnitur, dan mebel peninggalan Sardjito tetap terawat dan mengilap.
Putra tunggal Sardjito, Pek Poedjioetomo, menetap di luar negeri. Oleh karena itu, Budhi diminta menemani istri Sardjito, Ray Soeko Emi, tinggal di rumah tersebut. Secara silsilah, Budhi merupakan adik ipar Pek. Ia mengaku tidak mengetahui persis sejarah awal rumah itu, namun menurut pengetahuannya, bangunan tersebut sebelum Indonesia merdeka dimiliki warga negara Inggris, lalu sempat menjadi rumah dinas rektor UGM sebelum akhirnya menjadi kediaman pribadi Sardjito.
Momen Bersejarah dan Warisan
Sebagai bangunan berstatus warisan budaya, rumah ini menyimpan banyak momen historis. Wajah bangunan induk beserta isinya hampir tidak berubah sejak pertama kali Budhi menempatinya. "Tentunya dulu ketika pertama kali menjabat Rektor UGM ini kan tempat diskusi antar pejabat ya, foto-foto masih ada kok itu ada fotonya Pak Karno (Presiden pertama RI Sukarno), Ngarso Dalem (Sri Sultan HB IX). Pak Hatta [Wapres pertama RI Moh Hatta] dan yang lain termasuk ayahnya Bapak Prabowo (Soemitro Djojohadikusumo) yang sekarang Presiden pernah ke sini. Buktinya ada tanda tangan ada," urainya.
Dari rumah itu pula, Ray Soeko Emi melanjutkan warisan penemuan Sardjito berupa obat peluruh batu urine bernama Calcusol yang diproduksi PT Perusahaan Jamu Tradisional (PJT) Dr Sardjito. Bagian belakang rumah menjadi kantor operasional usaha perusahaan jamu yang berdiri sejak 1986 dan pernah mencapai masa kejayaan pada 2005, meski kini perlahan meredup.
Alasan Penjualan
Memasuki generasi keempat keluarga Sardjito, Budhi mengaku mulai kewalahan merawat rumah tersebut. Renovasi berkala setiap lima tahun membutuhkan biaya besar. Sementara dua cucu Sardjito sebagai ahli waris, Alita dan Dyani Poedjioetomo, tinggal di Jakarta. "Akhirnya dulu sudah saya beranikan, dengan berat hati saya sampaikan pada ahli waris semuanya karena hanya dua mereka setuju kalau ini dilepas. Namanya warisan, itu kalau enggak diselesaikan dengan baik ke belakangnya pasti ada aja (masalah)," kata Budhi.
Harapan Jadi Museum atau Rumah Dinas Rektor
Budhi telah menawarkan rumah itu kepada sekitar sepuluh pihak, mulai dari UGM, UII, mantan Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, hingga sejumlah pengusaha. Dari semua pihak itu, Budhi paling berharap UGM atau UII bersedia membeli rumah tersebut. Ia membayangkan rumah itu kelak menjadi museum Sardjito, atau bahkan kembali difungsikan sebagai rumah dinas rektor.
"Paling mulia rumah ini dipakai hunian pribadi atau dibeli UGM atau UII dipakai rumah sejarah. Kalau UGM jelas bisa dipakai rumah dinasnya antar Rektor, kalau UII nanti terserah apa wong dulu Pak Sardjito jadi Rektor UII ya kan," harapnya.
Budhi enggan menyebut harga pasti rumah tersebut. "Ya M (miliar rupiah) lah," ucap Budhi soal harga jual yang ditawarkan tanpa mengabari angka pasti. Dengan lokasi strategis di pusat kota, ia yakin rumah itu tetap memiliki banyak peminat. Namun ada satu hal yang ingin benar-benar ia hindari: rumah itu berubah menjadi kafe seperti bangunan-bangunan di sekitarnya.
"Ya tentunya (setelah pindah tangan) direnovasi dengan baik ya. Atau dipakai Museum Profesor dr. Sardjito ya. Atau dipakai rumah bakti sosial semacam Puskesmas. Jadi tiga-tiganya tuh rohnya Pak Sardjito semua," katanya.
Tanggapan UGM dan UII
Saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com terkait harapan yang disampaikan, Rektor UII Fathul Wahid mengaku pihak rektorat tidak memiliki kewenangan lebih lanjut. "Matur nuwun untuk informasinya. Saya teruskan ke Yayasan njih. Pembelian properti di luar kewenangan rektor," jawabnya. Sementara itu, Rektorat UGM melalui Juru Bicara Made Andi Arsana belum dapat berkomentar lebih lanjut dan akan didiskusikan lebih dulu. "Saya akan diskusikan nggih. Belum ada info," jawabnya.



