Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pemerintahannya tidak mengambil keputusan tanpa persetujuan pemimpin tertinggi Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei. Hal ini disampaikan Pezeshkian, seperti dilansir Press TV, saat Iran dan Amerika Serikat (AS) yang melakukan perundingan tidak langsung dengan mediasi Pakistan dilaporkan semakin dekat untuk memfinalisasi nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri perang.
Keputusan Harus Melalui Dewan Keamanan Nasional
Pezeshkian menyatakan bahwa tidak ada keputusan di Republik Islam Iran yang akan diambil di luar kerangka Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) dan tanpa koordinasi serta izin dari pemimpin tertinggi. Hal ini ia sampaikan dalam pertemuan dengan kepala dan manajer Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB).
“Ketika sebuah keputusan diambil di bidang diplomasi, semua institusi, platform, dan gerakan harus mendukungnya sehingga suara yang tunggal dan koheren dapat disampaikan kepada dunia dari Republik Islam,” ucapnya.
Musuh Ingin Membungkam Suara Kebenaran
Pezeshkian juga menyebut bahwa salah satu tujuan utama musuh Iran selama perang adalah membungkam suara kebenaran. Dia menyinggung sentimen anti-Iran yang tanpa malu-malu mengharapkan AS dan rezim Zionis, sebutan untuk Israel, untuk menghancurkan dan memecah-belah Iran.
“Jika kita semua bergerak bersama dalam kerangka pedoman Pemimpin Tertinggi dan menjaga solidaritas nasional, musuh tidak akan pernah mencapai tujuan mereka terhadap negara kita,” cetusnya.
Perundingan Iran-AS Semakin Dekat
Pernyataan Pezeshkian ini disampaikan saat laporan media internasional, terutama media AS seperti New York Times (NYT) dan Axios, menyebut Washington dan Teheran semakin dekat untuk menandatangani kesepakatan yang mengatur perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Informasi soal potensi kesepakatan yang dilaporkan media-media Barat itu sebagian besar disampaikan dari sudut pandang para pejabat AS. Otoritas Iran sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi apa pun.
Kesepakatan Masih Menunggu Persetujuan Akhir
Menurut seorang pejabat AS yang dikutip NYT, kesepakatan tersebut belum ditandatangani dan masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, proses yang dapat memakan waktu beberapa hari.
Sementara laporan Axios yang mengutip seorang pejabat AS yang mengetahui draf kesepakatan menyebut bahwa berdasarkan draf nota kesepahaman, Iran akan membersihkan ranjau dari Selat Hormuz dan mengizinkan kapal-kapal untuk lewat tanpa pungutan tol.
Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran dan memberlakukan pengecualian sanksi terbatas yang memungkinkan Teheran untuk menjual minyak secara bebas selama periode 60 hari.
Ditambahkan Axios bahwa kesepakatan itu belum difinalisasi dan masih dapat gagal sebelum ditandatangani.



