Kilas Balik Pemimpin Anabaptis yang Digantung di Menara Hingga Tinggal Rangka
Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews Sabtu, 28 Maret 2026 08:53 WIB
Foto: Sangkar para martir yang tergantung di menara lonceng Gereja St. Lambert (Getty Images/M Timothy O'Keefe)
Jakarta - Sejarah mencatat kisah kelam para pemimpin yang digulingkan dari kekuasaan, lalu dikurung di dalam menara hingga hanya tersisa tulang belulang. Kisah tragis ini berasal dari kota Münster, Nordrhein-Westfalen, yang pada masa itu masih menjadi bagian dari Jerman Barat.
Pergeseran Kekuasaan dan Munculnya Gerakan Radikal
Dikutip dari laman perpustakaan Cambridge University Press, pada tahun 1533, kota Münster mengalami pergeseran kekuasaan signifikan dari Kristen Katolik ke Kristen Protestan Lutheran. Pergeseran ini terjadi di bawah kepemimpinan pendeta Bernhard Rothman, dengan Pangeran-uskup Franz von Waldeck yang membiarkan kaum Protestan tumbuh demi menjaga toleransi beragama.
Namun, situasi berubah drastis dengan munculnya gerakan reformasi radikal yang menekankan pembaptisan untuk orang dewasa, bukan bayi. Gerakan ini dikenal sebagai Anabaptis dan dipimpin oleh Jan Matthys.
Gejolak mulai timbul ketika Münster menjadi tempat berlindung bagi kelompok Anabaptis, terutama setelah kota itu memilih dewan kota yang dikuasai oleh penganut Anabaptis. Kelompok ini menjadi sangat dominan, hingga Franz von Waldeck akhirnya diusir dari kota dan kekuasaan sepenuhnya beralih.
Eskalasi Konflik dan Kepemimpinan Jan van Leiden
Pada Desember 1534, Rothmann menerbitkan Van der Wrake ('Pesan Penghiburan Pembalasan') yang menyerukan orang-orang saleh untuk melaksanakan penghakiman atas orang-orang berdosa di bumi, sebagai persiapan memasuki periode milenium.
Setelah kematian Matthys, kepemimpinan gerakan Anabaptis diambil alih oleh seorang penjahit bernama Jan Bockelson, yang lebih dikenal sebagai Jan van Leiden atau John dari Leiden, Belanda. Jan memproklamirkan dirinya sebagai raja apokaliptik (akhir zaman) dan melembagakan sistem komunitas berbagi harta serta poligami.
Kekalahan Brutal dan Hukuman Mengerikan
Saat masyarakat kota menderita kelaparan akibat konflik, Franz von Waldeck kembali ke Münster untuk melakukan pembalasan. Pasukannya berhasil membantai sebagian besar anggota kelompok Anabaptis laki-laki.
Pada Januari 1536, Jan van Leiden, pemimpin kota yang baru Bernd Knipperdollink, dan pengikut setia mereka Bernd Kretchtink, ditangkap dan disiksa dengan sangat brutal. Setelah kekalahan mereka, para prajurit yang kembali menguasai kota menempatkan tubuh ketiga orang itu di dalam sangkar besi.
Sangkar-sangkar tersebut kemudian digantung di menara Gereja St. Lambert, di mana mereka tetap berada di tempatnya hingga saat ini, menjadi saksi bisu sejarah kelam yang pernah terjadi di kota Münster.



